Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kartini merupakan diplomat kebudayaan yang handal mengingat dalam perjuangannya mampu menjalin hubungan kooperatif dengan bangsa lain melalui surat menyurat untuk mengekspresikan ide dan nilai-nilai untuk kepentingan bangsa.

Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) Semarang Prof. Dr. Dewi Yuliati mengatakan perjuangan Kartini melalui surat-surat yang pernah dikirimkan kepada teman-temannya di Eropa sebagai media untuk mengekspresikan pemikirannya untuk memajukan kehidupan rakyat Bumi Putera di Hindia Belanda (Indonesia).

Menurutnya, surat menyurat yang dilakukan Pahlawan Putri Nasional itu merupakan hubungan kooperatif dengan bangsa lain yang diekpresikan dengan pertukaran tradisi, pemikiran, nilai dan lainnya.

“Perjuangan Kartini melalui surat menyurat dengan teman-temannya di Eropa itu telah melakukan diplomasi kebudayaan. Yaitu usaha-usaha untuk kepentingan bangsanya (Indonesia) melalui hubungan kooperatif dengan bangsa lain yang diekpresikan dengan pertukaran ide, adat, tradisi dan nilai,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Diskusi Kebudayaan dengan Tema “Perempuan dalam Perspektif Sejarah dan Budaya” di Ruang Sidang  Lt 2 Kampus FIB Undip, Tembalang, Jumat. (21/4)

Dia menambahkan surat-surat Kartini telah menginspirasi banyak pihak untuk melakukan peningkatan kualitas kehidupan bangsa Bumipputera.

“Kumpulan surat-surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah terang” yang pertama kali diumumkan pada 1911 telah menginspirasi masyarakat untuk melakukan gerakan-gerakan perempuan di Indonesia di antaranya Puteri Mardika (di Jakarta pada 1912), Kautaman Istri (Tasikmalaya 1913), Aisyah (Yogjakarta 1917) dan KongresPerempuan Indonesia pada 22 Desember 1928,” tuturnya.

Dalam Diskusi Kebudayaan tersebut, juga menghadirkan narasumber Dosen Sastra Inggris FIB Undip Dr Ratna Asmarani.

Menurut Ratna, Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa yang merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang diangkat menjadi bupati Jepara.

Pada jamannya, Kartini adalah tokoh perempuan Jawa Ningrat yang cukup fenomenal. Namun menurutnya, perspektif Kartini terasah dan terhegemoni oleh perspektif barat.

“Pemikiran dan protes Kartini tentang kondisi perempuan Jawa Ningrat yang hidup dalam adat budaya tertentu mencengangkan pada jamannya. Namun, Kartini fokus pada perempuan Jawa Ningrat saja, sehingga ada kemungkinan pemikiran kritisnya tidak seluruhnya mewakili perempuan Jawa. Karena perbedaan status sosial tentunya membawa perbedaan adat budaya,” ujarnya. (RS)

 

146
Sebarkan berita ini:

One Comment

  1. Ya..dalam pandangan saya kegiatan diskusi kebudayaan ini perlu ditumbuhkembangkan sbg gerakan budaya di lingkungan civitas akademika FIB.Menggali Ide emansipasi Kartini penting, namun bagaimana ide2 keberpihakan Kartini ttg emansipasi bagi kaum perempuan lemah yg saat ini masih menempati posisi mayor di kalangan masyarakat bawah di Indonedia. Pola2 emansipasi yg perlu dikembangkan tentu tidak melepaskan kodrat dan hakikat sbg perempuan ketimuran. Tks. Perkembangan pola emansipasi menganut azas dialectical in harmony.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>