Sebarkan berita ini:
Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG[SemarangPedia] – Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM) Semarang menyebutkan tindak kasus kekerasan terhadap perempuan, dalam tiga tahun terakhir ini di wilayah Jawa Tengah mengami peningkatan yang cukup signifikan.

Kepala Divisi Bantuan Hukum LRC KJHAM Semarang Alifah mengatakan kasus kekerasan yang dialami perempuan pada 2014 sebanyak 460 kali dan mengalami kenaikan pada 2015 menjadi 477 kasus.

“Mulai November 2015 sampai akhir Oktober 2016, kasusnya semakin menjadi-jadi dengan jumlah mencapai 496 kasus. Sebanyak 871 wanita jadi korbannya,” ujarnya, di Semarang.

Kasus tersebut, lanjutnya, tahun ini bermunculan di berbagai kabupaten/kota yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan tercatat Kota Semarang yang paling menonjol hingga mencapai 199 kasus atau 40,1%  dari total yang terjadi di wilayah Jateng.

Dia menambahkan kekerasan perempuan lainnya terjadi di kabupaten/kota lainnya di antaranya di Kabupaten Kendal tercatat  26 kasus atau 5,2%,  Kabupaten Sragen dan Blora ada 17 kasus atau 3,4%, Solo dan Kabupaten Magelang ada 16 kasus atau 3,2%.

Menurutnya, untuk Aksi Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT), paling banyak ditemukan mencapai 147 kasus dan mendominasi 29,6% dibanding kasus lainnya, sedangkan perkosaan sebanyak 144 kasus atau 29,3%, Kekerasan dalam Pacaran (KdP) 98 kasus atau 19,8%, prostitusi 35 kasus atau 7,06%, perbudakan seksual 32 kasus atau 6,5%, perdagangan manusia 18 kasus atau 3,6%, pelecehan seksual 15 kasus atau 3,02% sampai buruh migran 7 kasus atau 1,4%.

“Ironisnya, maraknya kekerasan seksual tidak diimbangi membaiknya status pemenuhan hak-hak korban. Seperti layanan medis yang harus berbayar, adanya impunitas pelaku, korban kekerasan seksual yang dimediasi dan didamaikan dengan pelaku,” paparnya.

Melihat kondisi seperti itu, dia mendesak agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera dibahas dan disahkan, karena negara berkewajiban memupus kekerasan terhadap perempuan sesuai instrumen hukum HAM.

“Untuk mendorongnya, kita akan menggerakan perempuan miskin rentan marjinal di Jawa Tengah untuk secara kontinyu terlibat kampanye 16 hari Anti Kekerasan Perempuan. Mereka juga akan kita ajak diskusi dan berdialog secara terbuka oleh publik,” tuturnya. (RS)

 

187
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>