Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kaum Perempuan berperan besar dalam upaya mewujudkan ketahanan keluarga dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit sosial di masyarakat.

Dra Hj Munawaroh Thowaf MA salah satu Ketua Majlis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah ( MUI Jateng) mengatakan meski posisi imam atau pimpinan keluarga di tangan kaum pria, suami atau bapak, namun posisi perempuan atau istri sebagai pendamping juga tidak kalah penting terutama dalam mewujudkan ketahanan keluarga.

“Dibalik kesuksesan suami hampir pasti ada istri atau ibu yang hebat dan selalu memberi support,” ujar Hj Munawaroh ketika menyampaikan sambutan penutupan kegiatan Semiloka Perlindungan dan Penegakan Hak Anak dan Perempuan Dalam Rangka Membangun Ketahanan Kekuarga dan Masyarakat Melalui Pendidikan Pra Nikah, Minggu (17/11)

Kegiatan ini diselenggarakan Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja dan Kekuarga MUI Jateng di Hotel Siliwangi Semarang, Sabtu-Minggu (16-17/11)

Menurutnya, begitu besarnya peran perempuan dalam keluarga, maka sebelum nikah atau membangun keluarga harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Selain ilmu dan pengetahuan yang cukup, lanjutnya, sikap sabar dan tulus diupayakan selalu melekat pada dirinya. Sebagai institusi yang terbangun dari dua pihak tentu selalu ada perbedaan meski kecil kadarnya.

Namun sekecil apapun kadar perbedaan dalam institusi keluarga harus dikelola dengan baik, sehingga tercipta harmonisasi yang indah. Perbedaan yang ada bukan menjadi sumber pertentangan , tetapi justru sebaliknya menjadi pemicu terciptanya suasana saling menghormati dan menyayangi.

Dia menambahkan kesabaran memang menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya disharmoni dalam keluarga, karena itu pada diri para perempuan diharapkan tertanam sikap sabar sejak dini untuk bekal dalam membangun keluarga.

Para aktifis perempuan, tutur Munawaroh, terutama aktifis organisasi keagamaan Islam hendaknya dapat menjadi teladan bagi lingkungannya. Sebagai aktifis yang banyak menyita waktu untuk kepentingan masyarakat tidak boleh lalai atau abai terhadap keluarganya.

Keluarga sebagai bagaian terdepan atau subsistem terkecil dalam bangunan sebuah bangsa menjadi kunci utama dalam memperkokoh tegaknya sebuah bangsa.

“Karena itu, jadi apapun dan dimanapun perempuan itu berada tidak boleh abai terhadap keluarga.  Bahkan keluarga harus dinomorsatukan agar memiliki ketahanan yang kuat agar mampu membentengi anak dan suami dari berbagai ancaman, terutama ancaman goyahnya iman dan penyakit masyarakat,” tuturnya.  (SMH/RS)

7
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>