Sebarkan berita ini:

26- Ganjar PranowoSEMARANG[SemarangPedia] – Kaum perempuan diminta untuk berpartisipasi menggaungkan program Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saya Perempuan Anti Korupsi,  bisa dengan cara merekam bukti terjadinya pungli dan mengunggahnya ke dunia maya yang diharapkan sebagai terapi kejut (shock therapy).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan keterlibatan masyarakat secara konkret untuk menolak pungli, termasuk dengan merekam bukti terjadinya pungli dan mengunggahnya ke dunia maya merupakan wujud terapi kejut yang tepat bagi oknum petugas  di masa keterbukaan saat ini.

Langkah itu, lanjutnya, oknum petugas yang melakukan pungli tidak lagi bisa berkelit dari pelanggaran yang telah dilakukan.

“Kalau direkan wajahnya kelihatan. Perilakunya kelihatan. Kalau udah kelihatan mau lari kemana? Terapi kejut yang luar biasa adalah ayo – rekam pungli, kirim ke @ganjarpranowo,” ujarnya saat Dialog Interaktif Mas Ganjar Menyapa bertajuk “Turn Back Pungli Bukan Retorika dan Citra Semata” yang berlangsung di Rumah Dinas Puri Gedeh, Selasa. (18/10)

Ganjar menuturkan hal itu dalam dialog interaktif  setelah menerima pertanyaan dari salah seorang karyawan bank swasta asal Kota Semarang, Santi.

Dalam dialog itu, Ganjar sempat menanyakan secara langsung kepada yang bertanya, apakah pernah di mintai pungli?.

“Pernahkah nggak Ibu dimintai (uang) petugas saat mengurus pelayanan publik apapun itu?,” tanya mantan anggota DPR RI itu.

“Pernah Pak, waktu itu saya ngurus surat kehilangan KTP di kepolisian,” ujar Santi.

Sembari mengadu kepada gubernur, Santi mengaku sebenarnya tidak ada ketentuan nominal yang harus dibayarkan saat mengurus KTP-nya yang hilang. Namun, dia memberikan uang kepada petugas atas dasar sukarela.

“Sukarela tapi ibu ngasih? Ikhlas nggak Bu?,” tanya Ganjar lagi

Menurut Santi, sejujurnya kurang ikhlas Pak, tapi karena melihat yang sebelumnya juga ngasih jadi ikutan aja.

“Lain kali jangan dikasih, Bu. Aturan sukarela itu sebenarnya nggak ada. Yang ada itu kalau ada perdanya, ada regulasinya, ada tarifnya. Kalau Rp50.000 ya bayar Rp50.000. Tidak lebih tidak kurang. Itu benar. Tapi kalau nggak ada (aturannya) berarti itu gratis,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar meminta kaum perempuan di Jawa Tengah untuk berpartisipasi menggaungkan program Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) “Saya Perempuan Anti Korupsi”.

Perempuan, lanjut Ganjar, tidak perlu takut untuk menolak pungli secara tegas dan berani untuk mengungkapkan kemarahannya kepada petugas ketika pungli terjadi.

“Jangan tersinggung ya bu. Perempuan itu kan kadang-kadang galak, cerigis. Kalau kemudian dimintai (uang oleh petugas), ya di-unek-unekke saja, Bu. Bapak/Ibu ini minta-minta apa nggak malu sama rakyat? Apa nggak malu sama negara? Kalau perlu, saat Ibu marah-marah itu minta tolong direkam. Di-upload. Supaya masyarakat ngerti.Lho itu justru membuat mereka jera. Berani nggak?,” tantang Ganjar. (RS)

119
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>