Sebarkan berita ini:

 

Oleh: Drs H Gunawan Witjaksana Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang

Heboh dan mulai memanas menjelang pemilu dan pilpres 2019 bermunculan adu pernyataan antar elit, bahkan top elit akhir-akhir ini saling mengemuka lewat berbagai media, dengan berbagai kontroversi yang mengiringinya. Istilah plonga-plongo, sontoloyo,tampang Boyolali, gendruwo dan mungkin akan terus muncul yang lainnya, selain menghebohkan juga kurang mendidik.

Meski kata-kata yang mereka gunakan tersebut sangat populer dan bahkan dalam bahasa iklan merupakan kata kunci (keyword) yang cukup efektif diingat masyarakat, namun dari bobot pesannya sangatlah kurang. Justru sebaliknya konotasi yang timbul kemudian dari kata-kata tersebut, menyebabkan munculnya kegadhuhan.

Kegadhuhan yang muncul dari justifikasi masing-masing pihak yang berseberangan, menjadikan pemilihan umum (pemilu) yang sebenarnya merupakan kompetisi yang menggembirakan, berubah menjadi ajang perang di tahun politik yang mengkhawatirkan sekaligus meresahkan.

Melihat kenyataan itu, pantaslah bila kita merenung sembari mempertanyakan, akankah untuk mencapai kemenangan dalam pemilu harus dilakukan melalui cara apapun, tanpa mempedulikan dampak apapun? Tidakkah masih diingat saat deklarasi damai mereka gaungkan bersama, mereka sama-sama berjanji menjaga ketenangan, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?.

Seharusnya mereka kan tidak mau dikatakan ingkar janji bukan ?. Karena ingkar janji itu berefek negatif terhadap kredibilitas mereka masing-masing. Bukankah kita juga masih ingat kata Towne dan Alder, bahwa komunikasi itu tidak bisa diperbaiki serta diulang (communication is irreversible and unrepeatable)?.

Tanpa Awalan Dan Akhiran

Seorang pakar komunikasi Wilbur Schramm mengatakan “komunikasi itu tidak berawal dan tidak berakhir”, sehingga dalam pelaksanaannya selalu diawali dengan kata dan diakhiri dengan kata kemudian.

Apa yang dikatakan Schramm tersebut itulah, yang selanjutnya banyak dipedomani, sehingga misalnya keluar istilah “sontoloyo”, tentu si pembuat pernyataan melihat sebelumnya, setidaknya menurut pandangannya, bahwa ada yang sontoloyo tersebut. Demikian pula dengan kata-kata plonga-plongo, tampang Boyolali, atau pun gendruwo.

Bila kita cermati, penggunaan kata-kata tersebut tidaklah salah, karena selain merupakan kata kunci yang mudah diingat, kata-kata tersebut sudah berulang kali digunakan, misalnya Bung Karno pernah juga menggunakan kata sontoloyo tersebut.

Namun, faktor konotasi yang kemudian mengikutinya, dibarengi dengan pandangan konstruksionis dari mereka masing-masinglah yang selanjutnya memunculkan perang pembenaran melalui media, terutama pada media sosial, sehingga kalangan akar rumput menjadi bingung, serta hal yang kontraproduktif tampak mengemuka.

Komunikasi Emphatik

Sebenarnya, bila para elit memang secara tulus ingin berpolitik secara santun dan menganggap pemilu sebagai arena kompetisi sehingga menang kalah itu biasa, maka pesan-pesan komunikasi yang emphatik serta menggunakan bahasa sesuai dengan pengetahuan, pengalaman khalayak sasarannya, akan lebih komunikatif, sekaligus menghindari pesan-pesan yang bisa menimbulkan kontroversi dan kontraproduktif.

Sesuai  salah satu sifat manusia yang lebih suka menerima serta mencerna pesan komunikasi yang sederhana, maka penggunaan kata kunci memang cukup efektif. Namun, resikonya adalah mudahnya muncul konotasi dari kata kunci yang dilontarkannya tersebut. Konotasi itu muncul justru karena kata kunci tersebut memunculkan banyak penafsiran.

Kata gendruwo misalnya, pihak petahana tentu memaksudkannya sebagai politisi yang sering menakut-nakuti rakyat dengan menggunakan pernyataan-pernyataan bernada pesimistis, misal Indonesia akan bubar, 99 persen rakyat hidup pas-pasan dan sejenisnya. Sementara penantang menafsirkan justru pemerintahlah yang sering melakukan politik gendruwo, misalnya melalui tindakan yang dinilai represif, kriminalisasi kasus dan sebagainya.

Singkatnya, melontarkan kata kunci yang mudah diingat itu baik serta efektif, selama kata serta istilah yang dilontarkan tersebut jelas konteksnya sangatlah diharapkan, sehingga tidak ada lagi konotasi yang mengiringinya.

Sebenarnya masyarakat yang makin pandai seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, akan lebih mampu menyaring, mana elit yang sering melontarkan kata-kata atau kalimat konvrontatif, akan lebih sering memperoleh tanggapan nyinyir. Ini terlihat jelas bila kita lihat berbagai komentar dari pernyataan mereka di media massa online seperti kompas.com, detik.com, dan sejenisnya atau lewat media-media sosial.

Ke depan, alangkah indahnya bila suasana pemilu yang sebenarnya arena kompetisi sekaligus pesta demokrasi itu diwarnai dengan saling melontarkan serta menawarkan program yang mudah dicerna, rasional, sekaligus aplikatif, sehingga ketika terpilih kelak, masing-masing bisa mewujudkannya secara nyata, yang ukurannya adalah apa yang benar-benar  dirasakan rakyat, bukan apa yang menurut para elit sudah dirasakan rakyat.

31
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>