Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana M.Si Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 tidak lama lagi akan digelar. Bahkan sesuai jadwal pada Februari ini sudah mulai tahap pendaftaran para bakal calon (Balon) kepala daerah dan wakilnya di masing- masing wilayah dan daerah.

Namun, secara keseluruhan hingga saat ini hampir belum tampak gairah, bahkan gaungnya pun belum terdengar. Kalau di sedikit wilayah, misalnya Solo sudah mulai ada riak- riak kecil, namun kemungkinan itu terjadi ada figur milenial populer yang mulainya diangkat media dari hasil survei sebuah Perguruan Tinggi (PT) di Solo. Namun riak- riak itu pun belum mampu menyeruak perhatian (awerness), masyarakat pada umumnya. Hal ini sangat berbeda dengan Pilkada Serentak periode sebelumnya, terlebih bila dibanding dengan Pemilu Raya serentak 2018 silam.

Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi?, Serta apa yang sebaiknya dilakukan oleh Penyelenggara Pemilukada serentak 2020 yang akan digelar September mendatang.

Kinerja Dan Peluang

Dalam Ilmu Komunikasi ada teori yang mengatakan bahwa ” kinerja akan berkata lebih nyaring dibanding wacana.” Terkait dengan itu, maka di wilayah ( Provinsi, Kota, atau Kabupaten) yang petahanya masih berpeluang maju lagi, maka hiruk pikuknya sangat tergantung dari penilaian calon pemilih dari wilayah yang bersangkutan.

Contoh kongkrit misalnya Kota Semarang, yang petahanya sangat positif dinilai masyarakat akan kinerjanya, melalui berbagai prestasi sekaligus realitas yang dirasakan masyarakatnya, maka seolah Pilkada hampir tidak terasa gaungnya. Bahkan santer bakal terjadi calon tunggal, meski hal tersebut tergantung tahapan pelaksanaannya selanjutnya.

Sementara di Solo agak sedikit beriak, karena kemungkinan calonnya hanya Wakil Petahana, dan kebetulan ada figur hasil survei yang tampak cukup serius mencalonkan diri sesuai prosedur.

Penilaian terhadap kinerja petahana dari sisi komunikasi dikaitkan dengan janji saat kampanye itu berada di dunia abstrak (normatif), sementara kinerja ada di dunia nyata yang wujudnya antara lain adalah apa yang dirasakan masyarakat.

Upaya

Masih tampak sepinya situasi menjelang Pilkada serentak tahun ini, maka merupakan kewajiban KPU/D untuk menyosialisasikannya. Mungkin, melalui media baru seperti website dan sejenisnya, sudah dilakukan.

Namun, karena medsos itu baru menjangkau duapuluhlima persenan penduduk, maka penggunaan media lainnya pun sangatlah diperlukan. Berdasarkan survei dan pengamatan kasar yang penulis lakukan di beberapa wilayah, masyarakat akar rumput hampir belum ada yang tahu, bahkan hanya sebatas akan segera ada Pilkada pun mereka belum tahu.

Karena itu, selain KPU/D, Parpol pengusung, bahkan para calon dan tim suksesnya secara aktif perlu turun lansung ke masyarakat, melalui komunikasi kelompok serta komunikasi antar persona, baik formal serta informal. Melalui cara tersebut diharapkan masyarakat akan tahu dan bergairah, sehingga diharapkan akan berpengaruh pula pada calon serta parpol yang ingin berlaga.

Pilkada langsung tentu juga membawa konsekuensi mahalnya biaya politiknya (Political Cost). Karena itu, akan mempengaruhi pula keberanian dari para calon, kususnya bagi yang baru.

Bila kenyataan itu yang dirasakan, maka selain upaya gotong- royong, maka mendukung segera terpilihnya pejabat baru yang akan memperlancar roda pemerintahan merupakan prioritas.

Dengan demikian, bila kenyataannya terjadi calon tunggal, mereka perlu memberikan dukungan maksimal, terlebih bila calon tersebut merupakan petahana yang berprestasi.

Yang paling penting adalah tujuan akhirnya makin sejahteranya masyarakat, dan itu akan segera terwujud melalui Pilkada yang lancar, jujur dan tingginya partisipasi masyarakat sebagai para pemegang hak, sekaligus yang akan merasakan hasilnya secara langsung.

40
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>