Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjalin kerja sama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI dalam penyediaan fasilitas aplikasi Rumah Belajar.

Kepala Pusat Data dan Teknologi lnformasi Kemdikbud RI Dr H Hasan Habibie ST MT mengatakan fasilitas rumah belajar itu tersedia aneka konten pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka.

“Sebelumnya memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran hukumnya makruh atau sunah, maka sekarang menjadi wajib,” ujar Hasan dalam Webinar lntegrative Education for Better Generation yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang, Senin (22/2)

Selain Hasan Habibie, webinar yang dimoderatori Direktur Litbang YPI Nasima, Supramono MPd menghadirkan pembicara Guru Besar Unnes Bidang Teknologi dan Pendidikan Prof Dr Haryono Mpsi, Ketua Pengurus YPI Nasima Dr lndarti MPd dan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Dr Hari Wuljanto MSi sebagai pembicara kunci.

Menurutnya, karena itulah agar rumah belajar itu dapat dimanfaatkan secara maksimal maka  dibutuhkan kreativitas para guru untuk menjadikan teknologi informasi menjadi moda pembelajaran yang adatif dan menarik bagi peserta didik.

Karena, lanjutnya, proses penyesuaian dari proses belajar mengajar manual menjadi High Tech (tekhnologi yang canggih) tidak mudah dan butuh waktu panjang. Namun situasi pandemi memaksa para tenaga pendidik, peserta didik dan orang tua murid dipaksa mau tidak mau mempercepat penggunaan alih teknologi pendidikan ini.

Pengawas Pendidikan Nasima Dr Najahan Musyafa pada upacara pembukaan menuturkan proses pendidikan tidak bisa berjalan sendirian.

“Perlu kolaborasi kerja sama yang baik semua stake holder pendidikan, yaitu tenaga pendidikan, murid dan orang tua, mengintegrasikan data dan teknologi dengan etika nilai-nilai agama sesuai visi misi Nasima,” tuturnya.

Prof Dr Haryono MPsi dalam makalah berjudul “Desain Pembelajaran lntegratif dan lnovatif dalam Menyiapkan Generasi yang Tangguh dan Adaftif” mengatakan untuk memfasilitasi peserta didik belajar, khususnya semasa pandemi dibutuhkan model integrative learning yang memadukan pengetahuan, pengalaman praktik, serta penanaman nilai-nilai spiritual dan sikap mulia.

“Praktiknya melalui aktivitas pembelajaran yang holistik dengan memanfaatkan teknologi informasi,” ujar Guru Besar Unnes itu.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Dr Hari Wulyanto SPd MSi sebagai pembicara kunci menuturkan pembelajaran virtual menjadi solusi pendidikan masa pandemi dan menjadi salah satu model pembelajaran masa depan.

“Meski begitu, jangan fokus hanya pada ketersediaan High Tech, tekhnologi canggih saja, namun harus diimbangi dengan High Touch, yaitu pendidikan yang dilandasi dengan kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian untuk membangun karakter peserta didik,” ujarnya.

Ketua Pengurus YPI Nasima Dr Indarti MPd mengatakan momen pandemi mendorong dunia pendidikan untuk bertransformasi dari pendidikan konvensional menuju pendidikan yang adaptif, kreatif, inovatif, dan holistik.

Adaptif terhadap perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi serta tetap dilandasi kearifan lokal yang berakar pada budaya dan karakter bangsa.

“Siapa yang menjadi transformer pendidikan? Mereka adalah guru, peserta didik, orang tua, dan lembaga. Dibutuhkan sinergi antarkomponen itu agar tranformasi belajar sesuai harapan. Intinya adalah memfasilitasi peserta didik yang tangguh, adaptif, inovatif, unggul, dan berkarakter nasionalis agamais untuk hidup pada zaman mereka kelak,” tuturnya.  (SMH/RS)

4
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>