Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kementerian Perindustrian mampu menggandeng sebanyak 117 perusahaan dan 389 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam upaya menjalankan program pendidikan vokasi industri di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Langkah prioritas ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan kopetensi sesuai kebutuhan dunia usaha saat ini.

“Di era persaingan global sekarang ini, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci sukses untuk bisa bersaing dan memenangkan kompetisi,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peluncuran Program Pendidikan Vokasi Industri (link and match industri dengan SMK) wilayah Jawa Tengah dan DIY, di Kabupaten Semarang, Jumat. (21/4)

Menurutnya, sektor industri membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, tidak saja dari keilmuan, tetapi lebih diutamakan penguasaan keterampilan dan attitude dalam bekerja.

“Kebutuhan tenaga ini diharapkan bisa dipasok dari pendidikan, khususnya pendidikan vokasi baik tingkat menengah maupun pendidikan tinggi,” tuturnya.

Pada tahap pertama, lanjutnya, peluncuran program pendidikan vokasi industri yang dilaksanakan 28 Februari 2017 di Mojokerto, melibatkan sebanyak 50 perusahaan dan 234 SMK di Jawa Timur. Hal ini ditindaklanjuti dengan penyelarasan kurikulum untuk 18 kompetensi keahlian bidang industri antara SMK dengan perusahaan.

Kementerian Perindustrian menargetkan, program pembinaan dan pengembangan SMK yang link and match dengan industri, memiliki sasaran sebanyak 1.775 SMK atau terdiri dari 845.000 siswa yang akan dikerjasamakan dengan 355 perusahaan sampai tahun 2019.

“Untuk itu, selanjutnya akan diluncurkan secara bertahap program serupa, di provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten, serta di Sumatera dan wilayah Indonesia lainnya,” ujarnya.

Airlangga mengapresiasi para pelaku usaha yang telah berkomitmen untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia, salah satunya melalui program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri.

“Ini adalah investasi industri terhadap SDM, karena jika pendidikan vokasi yang ada di Indonesia bisa menghasilkan SDM yang kompeten sesuai kebutuhan industri, maka benefit tersebut akan kembali pada perusahaan,” tuturnya.

Dia berharap para kepala SMK yang telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan agar dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk mengembangkan sekolahnya.

“Selanjutnya, saya meminta Pusdiklat Industri Kemenperin sebagai pelaksana untuk terus mengawal dan memantau pelaksanaan di lapangan dan kami mohon Kementerian terkait untuk mendukung program ini sesuai dengan kewenangan masing-masing,” ujarnya. (RS)

75
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>