Sebarkan berita ini:

24-TimurSEMARANG[SemarangPedia] -Semarang memang tidak dikenal sebagai kota seni seperti di Solo maupun Yogyakarta. Namun, jika banyak orang mendengar lagu merdu yang berdendang Semarang yang dikumandangkan oleh Waljinah dan penyanyi lainnya.

Bahkan, bukan hanya lagu, tetapi banyak pecinta seni di Indonesia akan tertuju kepada beberapa penyair yang cukup dikenal dari kota ini, di antaranya Timur Sinar Suprabana, Djawahir dan lainnya.

Timur tokoh penyair dari Semarang lebih dikenal dengan kepiawaian dalam menciptakan dan membacakan sajak serta puisinya yang membuat orang larut terpesona.

Penyair berambut gondrong yang satu ini, sajak-sajaknya telah mendapat pengakuan dari banyak pecinta seni, terhimpun dalam buku Sihir Cinta,Gobang Semarang dan Menyelam Dalam. Selain itu, kumpulan puisi Kesiur Dari Timur juga banyak dikenal.

24- Timur sinar suprabanaTimur adalah sosok seniman Semarang yang tidak mau diam dalam berkarya sejak tahun 80-an. Tidak mengherankan, jika pria yang menetap di Kota Lumpia ini, sering mengikuti kegiatan seni sastra ataupun budaya di berbagai kota.

Dia juga mengomunikasikan karya-karyanya ke publik melalui pembacaan puisi yang dilakukannya berkeliling di banyak kota di Indonesia

“Kalau berbgai kota di Indonesia saya sering tampil dengan puluhan kegiatan seni. Namun, manggung di luar negeri, juga tidak sedikit, bahkan belum lama diundang  ke Australia. Di Negeri Kanguru itu, saya baca puisi di komunitas penyair di Negara itu,” tuturnya.

Kepopuleran Timur, seiring perjalanan waktu. Sejak awal 1980 hingga kini, ratusan puisinya dipublikasikan melalui berbagai media massa yang terbit di Tanah Air di antaranya Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Suara Pembaruan dan media online lainnya.

Dia menuturkan untuk menciptakan karya-karyanya baik puisi, sajak, terinspirasi dari sekitarnya terutama alam. Inspirasi dan gagasan tertuang dalam karyanya mengalir begitu saja.

24- Om timur“Untuk menciptakan karya puisi, sajak, dari inspirasi, ide dan gagasan dari alam, bahkani tu mengalir terus.Ide itu baru menjadi bernama dan bermakna ketika kita menuangkan dalam bentuk apapun seperti puisi, sajak dan lainnya,” ujar pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 4 Mei 1963.

Talenta dalam berkesinian, terlihat sejak Timur masih di bangku sekolah dasar. Dia rajin mengirim tulisan di salah satu media nasional pada 1970-an.

“Sejak kelas 4 SD saat itu, saya sudah mengirim tulisan di media cetak Sinar Harapan. Dan kalau dimuat, honornya buku dongeng dan saat itu semakin dapat memacu saya untuk giat menulis dan menulis,” tuturnya.

Selain menyair, Timur juga menulis cerita pendek, esai, kritik seni, reportase sosial-budaya, dan naskah drama, serta bergiat di forum-forum kebudayaan Jawa Tengah.

Selain itu, Dia juga mengelola Rumah Budaya gubuk Penceng dan mengisi waktu luangnya dengan melukis dan bertanam bunga.

Di usianya yang ke 53, Timur tidak tetap semakin masih sebangat dan giat menciptalan karya-karya barunya baik dalam penuangan tulisan puisi, membaca puisi serta kegiatan seni laiinya. Namanya penyair kawakan dan senior yang lebih lengket dikenal di Kota Semarang hingga saat ini.(RS)

 

277
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>