Sebarkan berita ini:

Jpeg

SEMARANG[SemarangPedia] – Kirab Budaya dari berbagai unsur yang digelar Ormas Taruna Merah Putih (TMP) berlangsung meriah dengan diikuti ribuan peserta yang berjalan mulai dari jalan Pemuda, Jalan Pandanaran hingga jalan Pahlawan, Semarang, Munggu pagi. (20/11)

Berbagai atraksi budaya disajikan dalam kegiatan yang dilepas oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi beserta istri dan Wakil Wali Kota, Hevearita G Rahayu itu. Sebanyak 7.000 peserta ikut memeriahkan kirab budaya dengan memadati sepanjang rute dari Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Simpanglima dan berakhir di  Jalan Pahlawan.

Ketua Umum TMP Maruar Sirait juga didaulat untuk ikur serta dalam acara kirab budaya itu bersama tokoh lainnya yang mewakili berbagai unsur dan etinis di Semarang.

Kegiatan juga diikuti sejumlah komunitas lainnya seperti Komunitas Sepeda Onthel, Pendeta Gamki, Barongsai, GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Jathilan, Komunitas Etnis, Karangtaruna, KNPI, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), pelajar, peserta drum band PIP, OKP dan Pelnus, LBH, UMKM, Drum Black dan lainnya.

Kirab budaya yang dikemas dengan thema ‘Pancasila Sakti Rumah Kita’ mengajak semua unsure masyarakat untuk berkomietmen menegakkan dan menjaga keutuhan Indonesia yang berdasaran Pancasila, serta menjaga demokrasi, bahkan menjunjung tingi hukum. .

Ketua Umum TMP Maruar Sirait mengatakan menegakkan komitmen Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Indonesia sebagai negara demokrasi, dan Indonesia sebagai negara yang menjadikan hukum sebagai panglima.

“Itu adalah prinsip yang harus kita kedepankan. Boleh beda pendapat tapi tidak boleh anarkis,’’ ujarnya.

Sementara itu, Walikota Semarang Hendrar Prihadi menuturkan sebagai warga negara wajib hukumnya bagi siapa saja untuk menghormati simbol-simbol negara seperti Pancasila dan Burung Garuda dengan Bhineka Tunggal Ikanya.

Kegiatan yang dilakukan oleh TMP ini, lanjutnya, adalah salah satu contoh bagaimana merawat kebhinekaan itu agar bangsa ini tetap kuat.

Menurutnya, masih adanya isu sara di berbagai daerah menjelang Pilkada serentak 2017 yang seharusnya sudah bukan lagi menjadi persoalan bagi bangsa ini, jika setiap warganya berkomitmen menjadikan perbedaan-perbedaan sebagai satu kesatuan kekuatan.

:Kota Semarang, misalnya, yang etnis, agama, dan budayanya bermacam, namun karena kita berkomitmen sebagai warga bangsa, maka hal itu justru sebagai kekuatan untuk membuat kota ini menjadi lebih baik dan maju,” tuturnya.

Jika ada yang masih mempersoalkan sara, lanjutnya,  maka itu sebuah langkah mundur buat perkembang kehidupan bangsa Indonesia ini.

90
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>