Sebarkan berita ini:

160316170738_pulauburu_1_640x360_rahungnasution_nocredit

SEMARANG[SemarangPedia] – Pemutaran film kontroversial yang banyak menuai protes kini diputar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang beberapa waktu yang lalu.

Sebuah film dokumenter berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta menampilkan kisah dua tahanan politik yang pernah dibuang ke sana, yaitu Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, yang kembali ke pulau tempat masa-masa tergelap kehidupan mereka. Hersri kembali ke sana bersama anak perempuan dan istrinya untuk menunjukkan tempat-tempat saat dia berdiam selama sembilan tahun, sejak 1969 sampai 1978.

Film dokumentar disutradarai Rahung Nasution sesekali menggunakan puisi-puisi Hersri untuk memberi warna pada adegan-adegan yang sebenarnya monoton.

Bertahan di Pulau Buru – bekas tempat tahanan mereka Eks tapol 1965 Lima puluh tahun menanti keadilan. Dalam film, Hersri memang bertemu dengan para mantan tapol yang masih tinggal di sana, meski tak banyak dialog yang terjadi antara mereka, mungkin karena mereka sudah terlalu tua sehingga sudah sulit mendengar satu sama lain. Atau mungkin juga karena film memang kurang banyak menampilkan adegan percakapan antara para tapol.

Namun dari film ini, terlihat bahwa tak banyak lagi peninggalan dari masa tahanan politik di Pulau Buru -paling tidak begitulah penangkapan saya.

Monumen yang tersisa Satu yang dikunjungi oleh Hersri dan Tedjabayu adalah gedung kesenian di desa Savanajaya yang dulu mereka bangun, meski gedung itu kini sudah menjadi bangunan permanen, berbeda dari yang dulu mereka dirikan.

6528a6d9-9315-4d42-a51a-ca5b2261886e

Terhadap pentingnya adegan ini, sutradara Rahung Nasution mengatakan, Tempat itu kan satu-satunya sekarang monumen di Pulau Buru yang kita bisa lihat bahwa di situ pernah ada tragedi kemanusiaan.

Ingatan dan pengetahuan masyarakat tentang sejarah bangsa Indonesia mulai memudar. Hal ini yang membuat Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Undip mengadakan diskusi dan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta”

Acara yang diadakan di Fakultas Ilmu Budaya Undip menghadirkan dua pembicara. Heri Anggoro Jatmiko dari Syarikat Indonesia, dan Khotibul Umam yang merupakan dosen Sastra Indonesia, Kamis (16/6).

Acara dimulai dengan pemutaran film karya Rahung Nasution tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang diawali dengan pembacaan materi yang pembicara siapkan guna memperbanyak pengetahuan penonton tentang film tersebut.

“Alasan kami memilih film pulau buru terlepas dari pro kontra dan kontroversi, lebih ke edukasi sejarah yang sesungguhnya melalui kacamata pelaku sejarah di pulau Buru,” ujar Isnaini Ratri, Ketua Panitia.(AC)

98
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>