Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Komunitas Konco EO Semarang kembali akan menggelar Talkshow the expert’s dari sebelumnya diselenggarakan event talk, sebagai upaya untuk memunculkan ide kreatif, inovasi dalam sebuah konsep bagi para pelaku Event Organizer (EO).

Acara yang akan diselenggarakan pada 23 Oktober mendatang di Cafe Lot 28 Jalan Singosari Semarang itu, dibuka untuk peserta umum, termasuk dari kalangan mahasiwa yang berkeinginan mempelajari manejemen event.  Harga Tiket hanya Rp100.000 untuk mahasiswa/pelajar dan Rp150.000 untuk peserta umum.

Ketua Komunitas Konco EO Eling Wasito Adi mengatakan penyelenggara talkshow the expert’s itu, juga sekaligus untuk meningkatkan profesionalisme di kalangan pelaku EO, hingga kreatif dan inovasi yang dihasilkan lebih baik.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan juga akan membahas tentang mengelola suatu acara (event) mulai dari menyusun konsep, membuat proposal, menyusun budgeting acara dan masih banyak yang akan dibahas tentang membangun suatu acara yang baik.

Talkshow the expert’s dengan menghadirkan narasumber Hari “AWIL” Koerniawan Co Founder Backstager Indonesa yang merupakan managing director Tratas Production dan  Debora Sharon Menager Director Detail Communication. Keduanya dari Jakarta.

“Awil “akan mengupas tentang keahliannya mengelolaan acara dan memberikan tips tentang bagaimana masuk ke dunia EO,  pengetahuan bisnis EO dengan menjadikan EO sebagai hobi sekaligus sumber pendapatan.

Sedangkan “Debi”  dengan segudang pengalamannya merupakan salah satu pimpinan project Torch Relay dan Asian Festival dari Asian Games akan mengupas bagaimana merancang proposal dan membuat presentasi agar client tertarik, alur  proses sebuah event berjalan mulai perencanaan sampai pelaksanaan selesai serta bagaimana strategi menjalankan bisnis event untuk para pelaku bisnis EO dan mahasiswa/pelajar yang tertarik menjalankan bisnis EO.

Sementara Ketua Panitia Talkshow the expert’s Hasbi Ash Shiddiqi menuturkan syarat mutlak di dunia per-EO-an adalah “passion “  dan menjadi harga mati. Bahkan cara membangunkan “passion” di antaranya dengan bertemu berbagai orang sukses dan mendengar kisah suksesnya, Amati, Tiru dan Modifikasi dengan baik.

“Kalo kalian punya passion ayo ikut THE EXPERT, Are You Have Passion?” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan itu juga untuk mendorong para pelaku EO agar lebih profisional dan mampu memunculkan ide kreatif dan lebih inovasi sesuai kondisi saat ini dan ke depan, karena tidak dipungkiri juga semakin banyak bermunculan EO-EO abal-abal yang tidak memiliki legalitas badan usaha, khususnya Event Organizer.

Dengan kegiatan itu, dia menambahkan Komunitas Konco EO Semarang diharapkan mampu meyakinkan kepada para calon kunsumen baik perorangan, lembaga, kampus, instansi pemerintahan maupun swasta bahwa kinerja anggota Komunitas Konco EO sangat profesional dan resmi legalitasnya.

Komunitas Konco EO Semarang merupakan kumpulan pengusaha usaha Event Organizer dengan semboyan Guyub (Kebersamaan)  antar sesama pengusaha EO, dengan dasar ingin meningkatkan kualitas, kompetensi dan tanggung jawab menjadi alasan dibentuknya Komunitas Konco EO Semarang.

Bahkan, menurut Hasbi, syarat menjadi anggota Konco EO ini wajib memiliki legalitas badan usaha khususnya Event Organizer, dasar atas syarat tersebut karena Supplier dan Principle butuh kepercayaan (trust) dan kepastian terhadap EO yang bekerja sama, bukan EO asal-asalan, tetapi EO yang profesional serta memiliki badan hukum resmi.

Komunitas Konco EO Semarang berdiri pada akhir 2017 dengan anggota sebanyak 25 EO, dan sudah mengadakan beberapa kegiatan yang bersifat edukatif, di antaranya pelatihan EO untuk siswa SMP Karangturi Semarang, acara Talkshow yang mengusung tema event Talk dengan mengundang pembicara Ari Wulung (Yogyakarta) dan Penggagas Madang,Com Dr.Pulung dari Semarang.

Hasbi mengatakan Komunitas Konco EO  Semarang berkomitmen akan terus menggelar event yang bergenre edukatif, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas, kompetensi, pengalaman, pengetahuan (Knowledge) dan perilaku (Attitude) anggota, khususnya agar dapat di aplikasikan dalam menjalankan usaha EO-nya  dan masyarakat pada umumnya.

Tidak dipungkiri memang, tutur Hasbi, Indonesia pada umumnya dan Semarang khususnya harus siap menghadapi pasar bebas. Pelaku usaha nasional maupun lokal tak bisa mencegahnya, sehingga perlu dilakukan adalah meningkatkan daya saing, menambah jaringan bisnis, mengasah kemampuan membaca tren pasar dan yang terpenting adalah menjaga ketahanan usaha, khususnya EO agar kuat menghadapi serbuan pemain asing di jenis bisnis yang sama.

Dalam industri meeting, incentives, conference dan exhibition (MICE), sebelum ASEAN Economic Community (AEC) diberlakukan pada pada 2015 lalu, sudah terdapat enam perusahaan penyelenggara pameran kelas dunia yang beroperasi di Indonesia. Sebut saja REED asal Inggris, UBM dan HKTCD. Mereka adalah global player yang kerap menyelenggarakan pameran berklasifikasi B2B (business to business). (RS)

 

86
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>