Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Sebuah perusahaan minuman kesehatan bermerek Makuta Rama yang membuka counter sejenis café ala kekinian di DP Mall dan Java Mall Semarang membuat sejumlah konsumen binggung. Betapa tidak, café itu menggunakan atribut brand Nyonya Meneer, di tengah PT Nyonya Meneer masih dalam sengketa penjualan brand di Pengadilan Negeri (PN) Semarang belum rampung.

Konsumen juga semakin binggung tempat penjualan minuman suplemen ala kini itu juga memasang brand logo Nyonya Meneer, terutama counter yang digelar di DP Mall Semarang. Bahkan café ini menyajikan minuman kesehatan rasa café yang dikemas dalam gelas dan botol plastik berukuran 250 ml dengan lima jenis rasa.

Nana satu konsumen menuturkan yang dia ketahui PT Nyonya Meneer saat ini sudah berhenti memproduksi, setelah terjadi sengketa di Pengadilan Negeri. Namun yang mengherankan ada sebuah perusahaan minuman membuka counter dengan atribut brand Nyonya Meneer.

“Anehnya produk minuman di counter itu, selain kualitasnya diragukan juga tidak memiliki daftar Registrasi Depkes RI atau daftar BPOM hanya mencatumkan batas kadaluarsa pada kemasan botol,” ujarnya, Senin. (3/6)

Dia menuturkan para penggemar minuman kesehatan (Suplemen) menjadi binggung dengan penjualan minuman kesehatan pada counter itu, mengingat PT Nyonya Meneer masih dalam sengketa, bahkan aktvitas produksinya pun  terhenti, kini tiba-tiba muncul produk minuman suplemen dengan menggunakan brand Nyonya Meneer lengkap dengan logo potret Nyonya Meneer.

Sementara itu, penjaga counter Makuta Rama di Java Mall Novi menuturkan Makuta Rama memproduksi lima jenis minuman suplemen terdiri Maringga Limon (kelor), Honey Cardamon (kapulogo), Golden Curcoma (temu lawak) Bras Kencur (premium) dan Ice Lemon Gras (sereh).

Menurutnya, semua jenis suplemen itu disajikan dengan rasa dingin karena selain dicampur gula dan ice seperti layaknya minuman café ala kekinian, tanpa ada rasa pahit, bahkan rasanya menyegarkan.

“Perusahaan ini milik Seno Budiono pengusaha asal Semarang dan pabriknya berlokasi di Gang Pinggir Semarang,” tuturnya.

Seperti diketahui kedua kurator kasus PT Nyonya Meneer tidak menemukan kesepahaman alias deadlock, akibat adanya perbedaan pendapat saat dilakukan pertemuan hinga dua kali.

Pengadilan Negeri (PN) Semarang membenarkan adanya perbedaan pendapat kurator PT Nyonya Meneer tersebut dalam penjualan 72 merek.

Humas PN Semarang Eko Budi pernah mengatakan salah satu kurator Ade Liansyah tidak sepaham dalam penjualan 72 merek PT Nyonya Meneer, karena  setelah pertemuan dua kali pertemuan pada 21 dan 25 Februari lalu kedua kurator tidak menemukan kesepahaman hingga deadlock. (RS)

115
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>