Sebarkan berita ini:

13-korban-kekerasanUNGARAN[SemarangPedia] –  Upaya Pemkab Semarang menuju kabupaten layak anak berbanding terbalik dengan wajah dunia pendidikan setempat, karena Sf, 12 bocah yatim piatu kelas V SDN Langensari IV, Kelurahan Langensari, Ungaran Barat diduga menjadi korban kekerasan gurunya, sehingga enggan bersekolah selama dua bulan.

“Selama dua bulan terakhir ini lebih banyak di dalam kamar. Sekarang malah menempati kamar belakang. Kalau ada orang tidak dikenal tidakbersedia keluar. Kalau dibujuk untuk menemui justru teriak-teriak menolak,” ujar Hariyanti, bibi Sf, Kamis. (13/10)

Selama 12 tahun terakhir, Sf diasuh dan hidup bersama dengan Hariyanti dan neneknya, Tarimah. Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah yang terbilang sederhana di Jalan Raden Wijaya RT 2 RW 3, Langensari.

Sf sudah jadi yatim piatu sejak kecil. Ibunya Hartini meninggal dunia saat melahirkan Sf, menyusul tiga tahun kemudian sang ayah, Sutomo, berpulang karena sakit.

Hidup Sf semakin berat ketika suami Hariyanti atau pamannya, yang selama ini menjadi ayah asuh sekaligus tulang punggung keluarga telah meninggal dunia sekitar setahun lalu. Praktis, Sf kini tinggal menggantungkan segala kebutuhan hidupnya, termasuk keperluan sekolah dari hasil usaha mikro bibinya tersebut.

“Saya jualan lotek dan makanan kecil hanya untuk menghidupi tiga orang termasuk Sf,” ujarnya.

Latarbelakang kehidupan Sf yang miris ini ternyata tidak membuat guru sekaligus wali kelasnya, TH, memberi perhatian penuh. Malah dua bulan lalu SF dikenakan hukuman yang tergolong kekerasan fisik.

“Saat pelajaran Matematika, Sf diminta maju di depan kelas untuk menghafal namun tidak bisa, akibatnya dia ditampar mulutnya oleh gurunyta,” tuturnya.

Pihak keluarga sangat mengharapkan agar instansi terkait bisa mengambil tindakan atas perilaku guru TH. “Saat ini kondisi Sf sudah mulai membaik. Kami terus melakukan pendekatan agar dia mau kembali sekolah dan bergaul dengan teman-temannya lagi,” tuturnya.

Dari hasil pendekatan yang dilakukan bersama petugas Badan keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Semarang, Sf bersedia kembali bersekolah asal tidak bertemu dengan guru TH.

Belum ada penjelasan dari pihak SDN Langensari IV atas dugaan kekerasan yang menimpa salah satu anak didiknya. Saat ditemui wartawan, Kepala Sekolah SDN Langensari IV Susilowati enggan memberikan keterangan.

“Silahkan hubungi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Saya sudah cerita semuanya ke dinas, biar dinas yang memberi keterangan,” ujarnya.

226
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>