Sebarkan berita ini:

20-Bencana Longsor1SEMARANG[SemarangPedia] – Tim SAR gabungan hingga kini masih terus melakukan pencarian korban hilang yang tertimbun longsor di Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara Jawa Tengah akibat bencana yang terjadi akhir pekan lalu.

Senin ini (20/6) sekitar pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB, Tim SAR gabungan menemukan lagi empat korban dalam kondisi meninggal dunia. Jumlah korban itu tiga orang di antaranya ditemukan di Desa Donorati Kecamatan Purworejo dan satu orang ditemukan di Desa Caok/Karangrejo, Kecamatan Loano.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan total korban bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah kini menjadi 47 tewas dan 15 orang hilang.

Menurutnya, pencarian korban difokuskan di Desa Donorati yang diperkirakan masih ada enam orang hilang dan di Desa Caok/Karangrejo ada delapan orang. Sementara itu di Desa Jelog Kecamatan Kaligesing masih ada satu orang hilang.

Daerah longsor yang terjadi di Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara merupakan daerah rawan sedang hingga tinggi longsor. Hujan lebat yang menjadi pemicu menyebabkan longsor terjadi dan menimbulkan korban jiwa.

Dia menuturkan perlu ada upaya mitigasi stuktural dan non struktural untuk melindungi masyarakat dari bahaya longsor. Ke depan penataan ruang yang berbasis peta rawan longsor perlu lebih ditegakkan dalam implementasinya untuk melindungi masyarakat dari longsor.

“Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaannya mengingat potensi banjir dan longsor masih tetap tinggi seiring dengan hujan lebat masih berpotensi tinggi,” tuturnya.

Sekitar 250 personel Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, relawan masyarakat terus dikerahkan untuk mencari korban hilang di Desa Dorowati. Akses jalan yang sebelumnya tidak bisa dilalui, saat ini sudah diperbaiki sehingga tiga alat berat dapat membantu pencarian korban.

Kondisi tanah, lanjutnya, di daerah itu labil dan berpotensi longsor susulan masih tinggi jika hujan di bagian hulu masih berlanjut.

Sementara itu, Provinsi Jawa Tengah menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah atas peristiwa bencana hedrometeorologi yang terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia, korban jiwa paling banyak juga terjadi di Provinsi Jawa Tengah akibat bencana hedrometeorologi tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei saat mengunjungi lokasi bencana tanah longsor di Kabupaten Purworejo mengatakan sepanjang 2014 hingga pertengahan 2016 ini paling parah terjadi di Jawa Tengah. Bencana hedrometeorologi ini terjadi disebabkan oleh cuaca.

Menurutnya, kedatangannya ke Purworejo itu untuk mengecek secara langsung dampak bencana yang disebutnya paling parah dibandingkan di wilayah lainnya di Provinsi Jawa Tengah. Pada masa tanggap darurat saat ini, BNPB meminta kepada aparat gabungan dan relawan agar fokus pada pencarian korban yang belum ditemukan.

Selain itu, dalam beberapa hari ke depan BNPB melalui BPBD akan memprioritaskan penanganan korban terdampak, terutama yang harus diungsikan.

“Korban yang belum ketemu terus dicari sekaligus warga terdampak ditangani dengan serius. Bahkan yang rumahnya rusak  akan dibantu oleh BNPB dalam proses recovery,” ujarnya.

Setelah melihat dampak bencana secara langsung di Purworejo, BNPB akan melakukan penanganann pasca bencana. Selain menanganan warga terdampak, juga dilakukan penghitungan kerugian material, meningkatkan kerja sama untuk menekan risiko bencana. BNPB,

 

113
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>