Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] –  Kue Keranjang merupakan salah satu makanan wajib yang disajikan oleh Masyarakat Tionghoa dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Kue dengan rasa manis dan bertekstur lengket ini mempunyai filosofi untuk mempererat hubungan antar keluarga, relasi dan sesama.

Dalam bahasa Mandarin Kue Keranjang disebut dengan Nian Gao. Nian berarti tahun, dan Gao adalah kue. Jadi secara harfiah artinya kue tahunan

Dalam Masyarakat Tionghoa selalu memegang tradisi Kue yang terbuat dari bahan dasar ketan dan gula ini disajikan dalam upacara persembahan kepada leluhur saat tujuh hari menjelang Tahun Baru Imlek. Demikian juga saat malam menjelang Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang disajikan di atas atau sekitar altar sembahyang sebagai persembahan mereka untuk para dewa-dewa. Tidak selesai sampai di situ, kue tersebut juga masih akan disajikan hingga malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek baik di depan altar atau dekat tempat sembahyang di Rumah maupun Klenteng.

Secara makna, makanan yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah ini merupakan bentuk harapan keluarga agar dapat terus bersatu dengan berbentuk bulat.

Ong Eng Hwat Salah seorang pembuat kue keranjang tradisional di Kota Semarang. Dengan tetap menjaga citarasa tradisonal, Kue keranjang Ong Eng Hwat selalu diburu pelanggan di Tahun baru imlek. Pembeli sebagian besar langsung datang ke rumah sekaligus tempat produksi di Jalan Kentangan Tengah nomor 67 Jagalan Kota Semarang.

Seperti halnya Ariani yang mengaku selalu membeli kue keranjang Ong Eng Hwat karena mempunyai rasa yang berbeda dibanding kue keranjang lainnya. Meski harganya lebih mahal,  Kue keranjang tradisional lebih digemari karena banyak varian rasa dan terlebih cara memasaknya menggunakan tungku api kayu.

“Karena cara membuatnya mempertahankan dengan cara tradisional, rasanya tentunya berbeda dengan yang dibuat secara modern. Beli untuk persembahan para leluhur di rumah,” ujarnya.

Di Cina, terdapat kebiasaan saat Tahun Baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang, sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar lebih baik dari tahun sebelumnya. (HN/RS)

257
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>