Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana M.Si
Dosen dan Ketua STIKOM Semarang.

Menyongsong masa depan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui bangku kuliah. Ketika orang tua dan calon mahasiswa memutuskan untuk kuliah, harapannya tentu memperoleh ilmu demi menyongsong masa depan.

Sayangnya, kondisi saat ini berbeda dengan sebelum masa Pandemi Covid-19, di mana seolah saat ini hampir tidak ada bedanya kuliah di manapun, baik di Perguruan Tinggi Negeri( PTN), maupun Perguruan Tinggi Swasta ( PTS). Semua seolah kuliah tanpa tembok dan dibantu dengan program atau pun aplikasi khusus via internet yang dimiliki PT-nya masing-masing.

Hal lain yang menjadi hambatan dan berdampak pada turunnya minat mendaftar kuliah adalah masalah ekonomi. Meski Pemerintah telah membantu dengan Kartu Indonesia Pintar Kuliah ( KIP Kuliah), Program bidik misi, dan sebagainya, namun karena persyaratannya cukup rumit, maka yang bisa lolos ikut kuliah pun jumlahnya masih sangat terbatas.

Kondisi itulah menyebabkan di antara mundurnya dimulainya tahun ajaran baru sebagai dampak mundurnya waktu SBMPTN, UM I, UM II di PTN, yang dampaknya ikut mundurnya dimulainya tahun ajaran baru di PTS.

Itulah kondisi riil saat ini, sehingga bila kita amati, berbagai iklan PT dengan berbagai kiat persuasifnya masih bersliweran di berbagai media, termasuk media sosial.

Karena itu, bagi orang tua atau pun calon mahasiswa yang masih mencari PT untuk kuliah , maka apa saja yang perlu mereka perhatikan dalam memilih Program Studi di PT yang tepat guna menyongsong masa depan ?.

Persepsi

Dalam masa pandemi Covid-19, seolah kuliah di manapun tidak ada bedanya. Para orang tua serta calon mahasiswa sering mendengar berbagai kerepotan yang dialami misalnya sulitnya signal, terbatasnya kuota, materi kuliah satu arah yang kurang jelas, serta sederet keluhan lainnya.

Namun, harus diakui, bahwa PTN beserta Prodinya lebih menjadi pilihan utama. Pada kenyataannya kecenderungan tersebut masih dominan, meski sebenarnya Prodi yang sama di PTS, nilai akreditasinya lebih tinggi.

Kenyataan menyangkut brand tersebut tentu tidak bisa disalahkan, mungkin sampai saatnya nanti kondisinya berubah seperti di negara- negara maju. Terlebih PTN membuka berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru ( PMB), sehingga bagi kalangan menengah ke atas  PTN menjadi pilihan utama.

Kebutuhan User

Hal lain yang menjadi dasar dalam memilih PT adalah menterengnya gedung (packaging), baru selanjutnya nilai akreditasi serta  prasarana pendukung lainnya.

Yang sering justru dilupakan adalah apakah prodi yang dipilihnya tersebut sedang dibutuhkan pasar lulusannya?.

Adanya program merdeka belajar yang pada hakekatnya bertujuan me-link dan match kan lulusan dengan kebutuhan pasar, sebenarnya perlu diperhatikan calon mahasiswa.

Program akademi komunitas, pendidikan vokasi, dan sejenisnya diharapkan menjadi alternatif pilihan.

Meski demikian, kecermatan calon mahasiswa dalam memilih perlu pula memperhatikan kualitas staf pengajar, kurikulum serta kelengkapan laboratoriumnya.

Laboratorium ini tentu sangatlah penting, sebab dengan demikian para lulusannya kelak apakah lansung siap kerja, atau sebaliknya hanya pandai berteori dan susah menghadapi berbagai tuntutan, terutama terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi dengan berbagai ikutannya.

Karena itu, model- model sekedar ngikut teman, ngikut trend dan sejenisnya, perlu dirubah dengan mencermati kemampuan prodi di  PT serta lulusannya dalam menyongsong pasar serta kualitas alumninya yang secara nyata telah berkiprah di berbagai sektor, termasuk pengakuan masyarakat terhadap para alumninya tersebut.

(Drs Gunawan Witjaksana, M.Si Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang)

41
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>