Sebarkan berita ini:

16-lima-hariSEMARANG[SemarangPedia] – Peringatan pertempuran Lima Hari yang di gelar di kawasan Tugu Muda, Semarang, Jumat malam (14/10) berlangsung khidmat dan meriah meski diguyur hujan gerimis.

Peringatan perlawanan rakyat Semarang melawan tentara Jepang itu, diikuti dari berbagai unsur mulai TNI, Polri, Walikota, mahasiswa, pelajar hingga ribuan warga Kota Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertindak sebagai inspektur upacara, sementara komandan upacara dipimpin oleh Komandan Bayalyon Infanteri Raider 400/BR Mayor Arfan Johan Wihananto.

Pokok acara yang diperingati dengan detik-detik saat pertempuran Lima Hari di Semarang dengan diawali  bunyi sirine, disisul pembacaan sejarah singkat peristiwa pertempuran Lima hari di Kota Semarang.

Dalam pertempuran Lima Hari diceritakan mengenai terbunuhnya dr Kariadi yang menjadi Kepala Purusara (Pusat Urusan Kesehatan Rakyat) oleh Jepang saat mengecek persediaan air di kawasan Siranda yang kabarnya diracuni.

Gugurnya dr Kariadi yang kini namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUP dr Kariadi itu menyulut amarah rakyat, hingga terjadi pertempuran pada 15-20 Oktober 1945 di Semarang.

Pada peringatan pertempuran bersejarah di Kota Semarang itu, ditampilkan pula fragmen yang dibawakan oleh teater Pitulas UNTAG Semarang menceritakan jalannya pertempuran itu, termasuk bunyi dentuman meriam dan raungan sirene.

Lampu penerangan yang berada di sekitar kawasan Tugu Muda dipadamkan sesaat ketika penampilan teatrikal perlawanan pemuda dan rakyat dalam melucuti senjata tentara Jepang.

Di tengah guyuran hujan intensitas ringan, ribuan masyarakat yang memadati kawasan Tugu Muda tidak beranjak untuk menyaksikan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang yang  menjadi agenda tahunan.

16-kembang-apiGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan sikap dan keberanian para pejuang melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan perlu dicontoh generasi muda.

Para pejuang, menurutnya, telah memberikan teladan untuk harga diri bangsa sehingga generasi muda harus mengisi kemerdekaan seperti semangat para pejuang.

“Ini momentum bagi generasi muda untuk mencontoh sikap para pejuang yang memiliki harga diri bangsa, maka kita harus memberikan kontribusi pada bangsa tanpa korupsimaupun pungli,” ujarnya.

Pada akhir acara, dimeriahkan pesta kembang api yang diluncurkan dari halaman gedung Lawang Sewu.

Letusan kembang api yang berwarna warni di atas gedung bersejarah itu, semakin menambah kemeriahan peringatan pertempuran Lima hari di Semarang. (RS)

203
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>