Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Selama masa pandemi Covid-19, kasus tindak asusila dan kekerasan terhadap anak meningkat, sehingga perlindungan dan perhatian terhadap anak perlu lebih ditingkatkan.

Hal itu terungkap dalam webinar Ngobrol Santai “Kidung Harapan Menembus Batas”, catatan akhir tahun pelaksanaan program kemanusiaan respon Covid-19, Kamis (31/12) yang digelar oleh Yayasan Setara di Semarang yang merupakan mitra dari UNICEF

UNICEF dengan mitranya Yayasan Setara, Lembaga Perlindungan Anak Klaten, Sahabat Kapas Solo, dan Sahabat Difabel telah melakukan upaya meningkatkan keterampilan dan kreativitas anak-anak serta meningkatkan pendampingan dan perlindungan terhadap anak-anak dari perundungan dan kekerasan.

Salah satu narasumber Rizky Rahayu Setyawan, seorang Pembimbing Kemasyarakatan BAPAS Cilacap mengatakan jumlah Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH — anak yang melakukan tindak kriminal) meningkat 10% dibandingkan sebelum terjadi pandemi.

“Anak bosan berada di rumah. Mereka kemudian berkumpul dengan teman-temannya. Ada yang terjerumus melakukan pencurian karena disuruh oleh orang yang lebih dewasa dengan iming-iming imbalan tertentu. Namun mayoritas mereka melakukan tindak asusila. Oleh karena itu agar anak tidak bosan di rumah bisa belajar daring, itu adalah kewajiban orang tua agar tidak terjerumus pergaulan negatif,” ujar Rizky.

Menurutya, dalam mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, dia yang sering berada di lapangan langsung bersentuhan dengan anak dengan segala masalahnya, termasuk keluarganya.

“Sementara di pengadilan, Jaksa, dan pengacara hanya melakukan studi berkas. Kami berusaha membantu anak-anak yang sebenarnya bisa diselamatkan. Mereka terjerumus melakukan tindakan melawan hukum. Dalam proses pengadilan, banyak yang merasa bersalah dan mengambil hikmahnya sebagai pelajaran. Kami juga mengajak orang tua mereka mendampingi proses anaknya di pengadilan,” tuturnya.

Nurlaila Yuka Mujrisa dari Sahabat Kapas Solo menuturkan semula coaching clinic untuk mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum itu masih sebatas di Puspaga dan BAPAS di Jawa Tengah.

“Namun kemudian berkembang hingga luar Jateng. Aceh dan Papua pun bergabung,” ujar Mujrisa.

Sementara itu, data dari Lembaga Perlindungan Anak Klaten, hingga akhir 2020 ini ada 80 anak yang berhadapan dengan hukum.

“Banyak orang tua yang menyampaikan keluhan kepada kami sejak pandemi Covid-19 mulai ketika sekolah harus daring, anak-anak harus di rumah saja, ternyata anak-anak sulit membiasakan diri mengenakan masker. Mereka juga belum terbiasa menjaga jarak dan mencuci tangan,” ujar Gotik dari LPA Klaten.

Untuk menangani beberapa kasus serius yang berhubungan masalah psikis, maka konselornya harus ahli.

“Kami bekerja sama dengan Universitas Widya Dharma dan UIN Sunan Kalijaga. Bahkan konseling pun harus ada yang offline,” tuturnya.

Manajer Program Yayasan Setara Yuli Sulistyanto mengatakan anak-anak rentan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Mereka kena dampak luar biasa bila kita tidak melakukan perlindungan. Upaya pencegahan lewat protokol kesehatan maupun  pendidikan. Perlindungan efektif jadi pegangan kita agar anak-anak tetap sehat,” ujarnya.

Dia menambahkan Yayasan Setara dibantu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lewat Bappeda, Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan, dan Dinas Sosial Jateng ,  LPA Klaten dan Sahabat Kapas selalu mengawal program-program yang kami jalankan.

Sementara untuk merespon kasus Covid-19 yang ada di Jateng, Yayasan Setara membuat Aplikasi Pemetaan Kelompok Rentan (Apemketan) Anak dan Perempuan.

Odi Sholahuddin dari Yayasan Setara menuturkan hingga November 2020 ada 253.000 yang mengisi aplikasi itu. Sebagian besar baru dari Kota Semarang dan Kabupaten Klaten.

“Ini adalah aplikasi pertama di Indonesia untuk identifikasi kelompok rentan. Sebab baru akan ada respon jika tersedia data,” tutur Odi.

Yayasan Setara merekomendasikan agar aplikasi itu dikembangkan oleh Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Jateng dan Pemerintah Provinsi Jateng mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota juga menggunakan aplikasi pendataan tersebut. Karena aplikasi itu simple dan bisa dilakukan hingga tingkat kelurahan dan desa.

Sementara UNICEF Indonesia Child Protection Specialist Naning Puji Julianingsih menjelaskan Pandemi ini tidak ada resepnya dan harus melakukan apa. Namun pengalaman selama 9 bulan menjadikan manusia survivor (penyintas) yang luar biasa.

Arie Rukmanara, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa dan Bali mengatakan pandemi sesuatu yang akan berulang.

“Kita punya referensi dengan menulis buku, menulis berita, dan merawat anak-anaknya. Kata-kata di dalam buku itu menunjukkan bahwa masker bahan yang melindungi kita dari virus. Masker juga menurunkan polusi yang terhisap kita,” ujarnya.

Sementara menjaga jarak juga melindungi anak-anak dari virus, dan juga menjaga privasi. Fisik anak-anak akan berbeda.

“Ketika mereka naik kereta bukan hanya sampai ke tujuan, dengan menjaga jarak juga menghormati ruang privasi orang lain. Selain itu jangan berdempetan di tempat umum. Ini adalah simbol mereka yang punya niat buruk pada anak-anak. Selain itu menjaga jarak juga menjaga kepada mereka yang berniat buruk kepada anak-anak.  Watch your steps!!! Bila ada niat buruk, ada kami semua di sini sebagai orang tua yang melindungi anak-anak,” tutur Arie.

Sebagai  kakak, sahabat, tidak berhenti berkreasi. Dengan mencuci tangan, itu berarti mematikan ribuan kuman dan bakteri. “Hari ini mencatat banyak kasus, yang kita lakukan jauh lebih besar dibanding potensi penularan. Hari ini ada puluhan ribu,sebenarnya bisa ada ratusan ribu,” ujarnya.

Anak-anak sebagai super spreader. Bila anak-anak melakukan 3 M, maka dia melindungi kakek, nenek, ortu dan tetangga.

“Mereka justru menjadi bintang-bintang yang produktif di rumah, dan aktif berdiskusi. Mereka justru memerankan peran yang kita harapkan. Kebosanan mereka justru dikelola,” tuturnya.

Arie mengatakan pandemi akan berakhir. Vaksin akan datang tahap kedua. Belajar dari anak-anak, harus bersabar, jangan kendor, jangan  jadi super spreaders – justru jadi super heroes. (RS)

21
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>