Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini telah mengakibatkan sebanyak 26.568 unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)  di Jateng pendapatannya menurun dratis, bahkan nyaris aktivtasnya terancam gulung tikar.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan masa pandemi Covid, di Jateng telah dilaporkan sebanyak 26.568 UMKM mengalami penurunan pendapatan sangat dratis dan nyaris usahanya tutup.

UMKM sebanyak itu, lanjutnya, sebagisn besar aktivitas usahanya yang bergerak di bidang makanan dan minuman, fashion, konveksi dan handicraft serta perdagangan dan jasa. Mereka rata-rata mengalami penurunan omzet 46,86%.

“Sejak terjadi wabah Covid-19 hingga saat ini banyak sektor usaha yang terkena dampaknya, termasuk ekonomi dan mengakibatkan banyak UMKM aktivitasnya lumpuh, meski sebelum Covid-19  pada kondisi normal UMKM merupakan tulang punggung dan mampu menopang perekonomian negara,” ujarnya saat Diskusi Prime Topic, bertajuk Menopang Daya Tahan UMKM, yang berlangsung di Hotel Noormans, Semarang, Rabu (22/7).

Selain Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Ema Rachm, Diskusi itu juga menghadirkan nara sumber Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Sri Marnyuni dan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip Firmansyah.

Menurut Ema, dari 4,1 juta usaha yang ada di Jateng, tercatat 3,7 juta di antaranya merupakan usaha mikro, sedangkan usaha besar ada 3.358 unit, usaha menengah 39.125 unit dan usaha kecil 354.884 unit.

Saat pandemi Covid-19, lanjutnya, Pemprov Jateng berupaya untuk membantu membangkitkan kembali usahanya dengan melakukan pembelian masker kepada para pelaku UMKM yang berjumlah 2,6 juta unit itu, sedangkan untuk sektor makanan, pihaknya memberi bantuan bahan baku berupa gula, minyak, dan tepung.

“Bantuan terus kami berikan, terutama bagi UMKM yang membutuhkan karena dengan bangkitnya UMKM perekonomian ikut terdongkrak kembali,” tuturnya.

Selain itu, dia menambahkan Pemprov Jateng juga bekerja sama dengan beberapa e-commerce besar seperti Lazada dan Gojek untuk memberi pelatihan cara memasarkan produk secara daring.

Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk menunjang pendapatan pelaku UMKM serta memperluas pasar. Bahkan Jateng menargetkan pada Agustus mendatang ada 530 UMKM yang masuk e-commerce.

“Saya sudah melakukan survei rata-rata UMKM yang bekerja sama dengan e-commerce mendapatkan kenaikan omzet sebesar 200%,” ujar Ema.

Masa Pandemi ini, tutur Ema, meskipun UMKM mengalami penurunan omzet yang cukup tajam, tetapi UMKM berbasis online mengalami peningkatan omzet yang signifikan.

Saat ini Dinas Koperasi dan UMKM Pemprov Jateng melalui program jaring pengaman ekonomi, kembali mendorong UMKM agar bisa bangkit kembali,  di antaranya melui bimtek produksi, pameran, pendataan UMKM yang terdampak Covid-19, pendampingan bagi 1.350 UMKM.

Selain itu, lanjutnya, juga peningkatan ketrampilan usaha bagi 1.075 UMKM, penguatan kelembagana 30 koperasi, pembinaan dan pengawasan 140 koperasi, pendataan 5.220 UMKM terdampak Covid-19, restrukturisasi kredit bagi 400 UMKM, dan penguatan usaha bagi 605 UMKM.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip Firmansyah menuturkan langkah-langkah perencanaan yang dilakukan untuk membantu para pelaku UMKM di Jateng khususnya, harus tersistem. Baik itu dari sisi permodalan, pendampingan dan bantuan lainnya. (RS)

25
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>