Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Setiap Ramadhan Masjid Jami’ Pekojan Kota Semarang menyediakan sajian buka puasa bagi jemaah dan warga yang mampir dengan gratis, menu unik dan menyegarkan ini setiap menjelang puasa disajikan.

Ramadhan kali ini menjelang berbuka puasa di Masjid Jami’ Pekojan menyediakan menu bubur India bagi para jamaah untuk berbuka puasa selama Ramadhan, atau warga yang melintas mampir.

Selain itu, bubur khas India yang di masak dari genarasi ke genarasi dan sekarang sudah masuk ke genarasi ke empat ini, juga dibagikan kepada ratusan warga sekitar masjid.

“Setiap hari habis shalat Asyar ada sekitar 200 hingga 300 porsi diberikan warga secara langsung. Mereka rela mengantri dan membawa mangkok untuk mendapatkan bubur ini,” tutur Ahmad Ali bin Yasin (53) salah satu generasi ke empat pembuat bubur khas India.

Menurutnya, pemberian bubur India ini hanya dilakukan saat bulan puasa atau Ramadhan. Bubur yang diramu dari beras dengan bumbu-bumbu rempah seperti jahe, salam, kapulaga, sereh, manisan, cengkeh dan bumbu lainnya ini sudah ada sejak ratusan tahun.

Bubur ini, tutur Ahmad, diambil dari nama asal pedagang Koja dan Gujarat yang berdagang di Semarang sejak tahun 1900-an. Selain menjadi pedagang seperti menjual sarung, jam tangan, permata dan lainnya mereka juga melakukan dakwah.

Dengan melihat di masjid Pekojan hanya berbuka puasa seadanya berupa air putih dan bubur biasa, sehingga para pedagang Gujarat merasa terpanggil untuk menyempurnakan hidangan berbuka puasa dengan membuat menu berupa bubur India seperti tradisi di negaranya saat berbuka puasas.

“Para pedagang menawarkan menu bubur ini, Alhamdulillah, warga menerima dan senang karena rasanya enak,” tuturnya.

Tradisi itu sampai saat ini masih terjaga, beberapa saudagar keturunan Arab, Koja, dan India (Gujarat) yang menikah dengan warga lokal selalu menshodaqohkan harta untuk membuat bubur India tiap ramadan sebagai menu berbuka puasa.

Anas Salim Harun (73), yang juga generasi ke tiga yang menjadi juru masak bubur India ini menuturkan setiap hari, bersama takmir masjid memasak bubur ini membutuhkan kurang lebih tiga jam sejak siang pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Sedangkan berasnya membutuhkan 25 Kg di tambah santan, bumbu rempah dan dimasak dalam kuali ukuran besar. Tukang masaknya pun khusus secara turun temurun dari yang mewarisi orang Koja.

“Tradisi ini sebagai rasa kebersamaan, antara pendatang dengan warga lokal, tapi sekarang sudah menjadi kebiasaan dengan berbagi untuk semua yang membutuhkan,” ujar Anas.

Bubur pun disajikan dengan mangkuk plastik yang telah ditata rapi saling berhadapan, berada di serambi masjid sebelah kanan ruang shalat utama. Dilengkapi dengan menu lainnya seperti susu, dan buah-buahan.

“Berdoa dan menikmati bersama hidangan berbuka puasa menjadi tradisi hanya ada di bulan Ramadhan, siapa saja silahkan datang ke masjid untuk bersama-sama berbuka puasa dengan bubur India,” tutrurnya. (RS)

1
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>