Sebarkan berita ini:

PURWOREJO[SemarangPedia] – Belakangan ini masyarakat Purworejo digegerkan dengan munculnya orang yang mengaku sebagai pemimpin dan pengikut Kerajaan Keraton Agung Sejagat.

Mereka berupaya mendirikan semacam keraton yang belum selesai pembangunannya untuk dijadikan markas yang berlokasi di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Pimpinan Keraton Agung Sejagat yang dipanggil Sinuhun bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu memiliki nama Dyah Gitarja.

“Keberadaan kami adalah menunaikan janji 500 tahun dari runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1518. Wilujengan Keraton Agung Sejagat ini adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa,” ujar dalam jumpa pers di runag keraton itu, Senin (13/1)

Totok yang bergelar sangat panjang namun hanya disingkat Rangkai Mataram Agung. Entah dari mana asal usul cerita yang disampaikan oleh Sang Sinuhun, namun dia mengklaim memiliki wilayah kekuasaan seluruh negara di dunia dengan dalih bahwa tatanan di dunia ini terbesar adalah kekaisaran dan terkecil adalah berbentuk republik.

“Keraton Agung Sejagat memiliki alat-alat kelengkapan yang dibangun dan dibentuk di Eropa, memiliki parlemen dunia yaitu United Nation (UN). Keraton Agung Sejagat memiliki EInternational Court of Justice dan Fefense Council. Pentagon adalah Dewan Keamanan KAS, bukan milik Amerika,” tuturnya.

Namun ketika didesak terkait caranya, Sinuhun tak dapat menjelaskannya secara gamblang, hanya menuturkan bisa mengeluarkan nota diplomatik. Bahkan Kanjeng Ratu sempat naik nada suaranya ketika didesak untuk menyatakan, mengakui NKRI atau tidak, memiliki KTP Indonesia atau tidak. Dyah juga mengaku dulu pernah ikut mendirikan Ormas Laskar Merah Putih. Kerajaan itu mengklaim memiliki 425 orang pengikut.

Sementara itu, Jumeri yang rumahnya bersebelahan dengan Keraton Agung Sejagat ini mengatakan sejak dulu tidak pernah ada sejarah di Pogung ada kerajaan.

“Kami merasa sangat terganggu, karena kegiatan mereka itu tengah malam nyanyi-nyanyi sambil tepuk tangan jadi suaranya gaduh hingga membuat warga terganggu,” ujar kakek yang sehari-hari juga sebagai Imam Masjid setempat.

Bahkan, tutur Jumeri, hanya ada dua warganya yang menjadi anggota yang disebut abdi dalem Keraton Agung Sejagat itu.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta Pemkab Purworejo, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk mengusut dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait menyusul munculnya “kerajaan” di daerah itu.

“Saya minta Pemkab Purworejo dan Dinas Pendidikan Kebudayaan untuk segera mengusut, berkomunikasi, dan mencari data. Syukur-syukur ada perguruan tinggi untuk mencari dan meneliti keabsahan klaim itu secara akademik,” tuturr Ganjar, kepada pers di Semarang, Senin (13/1).

Menurutnya, pendekatan komunikasi perlu dilakukan agar tidak timbul pertanyaan-pertanyaan di masyarakat terkait munculnya klaim tersebut.

“Perlu ada komunikasi dan diskusi untuk mencari klarifikasi, agar pertanyaan-pertanyaan masyarakat dapat ditemukan jawabannya,” ujar Ganjar. (RS)

 

35
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>