Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana

Hasil survei Indikator Politik di antaranya mengindikasikan bahwa masyarakat makin khawatir menyatakan pendapat, tampaknya menarik untuk dicermati.

Kekhawatiran masyarakat dalam menyatakan pendapat yang disebabkan dugaan makin represifnya aparat, utamanya bila kritik serta pandangan yang disampaikan dianggap menyerang penguasa, perlu dikaji secara lebih cermat.

Hasil penelitian, keandalannya tentu akan sangat ditentukan oleh keandalan data yang diperoleh . Sedang keandalan data (validitas serta reliabilitasnya), antara lain dipengaruhi oleh pemetaan sampel, alat ukur yang digunakan, perbedaan antar obyek yang diukur, pelaksana serta administrator penelitian, bahkan dari sisi pembacaan hasil penelitian itu sendiri.

Karena itu, tidaklah salah bila PDIP, melalui Sekjennya, Hasto Kristianto mengkritisinya dengan antara lain menyebut dinamika masyarakat yang masih terus berkembang. Tentu yang dilakukan Hasto tersebut secara metodologis, memandangnya dari sudut pembacaan hasil penelitian.

Pertanyaannya, apa yang perlu kita cermati ketika kita membaca hasil penelitian dengan metode survei?.

Standard Kesalahan

Setiap lembaga penelitian yang melakukan survei dengan bantuan statistik, selalu menetapkan standard of eror. Hal itu mengacu pada ilmu statistik yang merupakan probability science (ilmu kemungkinan), artinya bisa saja sekian persen hasil penelitiannya sesuai standard Kesalahan yang ditetapkan itu salah. Bahkan bisa saja melebihinya.

Pemetaan populasi dalam pemilihan sampel, terlebih menggunakan multistage random sampling, memerlukan kecermatan yang super, karena kesalahan dalam menentukan sampel akan memengaruhi hasil akhir penelitiannya.

Selanjutnya alat ukur yang digunakan, termasuk pengantar sebelum melakukan wawancara bisa saja memengaruhi persepsi responden yang akan diwawancarai, yang dampaknya tentu saja pada hasil wawancaranya. Kita tentu ingat kesalahan penelitian itu bisa saja disebabkan oleh alat ukur, atau justru oleh hal- hal lain di luar alat ukur.

Perbedaan Antar Obyek

Wawancara terstruktur yang dilakukan Indikator melalui telepon pun mungkin juga mengandung kelemahan. Penelitian kuantitatif yang melarang peneliti mengenal obyek penelitian, kemungkinan bisa saja menghasilkan ketidakvalidan data, justru oleh ketidakjujuran responden, yang mungkin saja mempunyai motif- motif tertentu.

Belum lagi kemungkinan menyangkut perbedaan persepsi yang terjadi menyangkut keberanian menyatakan pendapat, serta sikap represif aparat yang dianggap terlalu membela penguasa.

Pendapat semacam itu, sah- sah saja, namun kenyataan bahwa saat ini kebebasan berpendapat dijamin Undang- undang seharusnya juga perlu dipertimbangkan. Contoh kongkrit ratusan  tulisan opini saya yang termuat di berbagai media, tidak pernah menjadi masalah, selama tulisan itu ilmiah, didukung fakta serta referensi yang kuat, sekaligus tidak berisi ujaran kebencian.

Demikian pula banyak pula penulis lain, serta narasumber di berbagai media tidak pernah berurusan dengan hukum atau pun aparat, meski tulisan serta pernyataannya kadang mengritik penguasa, atau sebaliknya mengapresiasinya.

Kalau toh responden menganggap tindakan tegas aparat  terhadap pendemo yang anarkhis, berbau sara, atau ujaran kebencian itu tindakan represif, itu sah sebagai responden terpilih. Toh nantinya seluruh data akan diolah serta dianalisis, hingga menghasilkan simpulan akhir. Pertanyaan wawancara serta situasi saat wawancara pun akan memengaruhi hasil akhir pula.

Intinya, bila kita menjumpai hasil penelitian, apa pun, terlebih penelitian kuantitatif dengan bantuan statistik, kita perlu cermat serta berhati- hati.

Kita juga perlu melihat berbagai kenyataan di lapangan, apakah yang dilakukan aparat itu sesuai protap, misalnya menghadapi demo anarkhis yang merugikan, atau menjumpai pernyataan yang berdasarkan peraturan perundangan mengandung bahasa provokatif bahkan mengandung ujaran kebencian?, Atau memang aparat berlebihan dan terkesan membela penguasa?.

Akhirnya dengan adanya hasil survei yang antara lain dilakukan Indikator Politik tersebut hendaklah dijadikan media saling introspeksi, apakah pemerintah dan aparat bertindak belebihan atau sebaliknya, pendemo pun perlu berbenah, untuk selanjutnya menyatakan pendapat secara santun, tertib, serta tidak terkesan memaksakan pendapat serta kehendaknya. Toh, lembaga- lembaga tempat berdialog serta menemukan titik temu telah diatur oleh Konstitusi kita.

(Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si Dosen Metodologi Penelitian dan Ketua STIKOM Semaran)

90
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>