Sebarkan berita ini:
Oleh: Gunawan Witjaksana

Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, akhirnya bersama pasangannya Teguh Prakoso berhasil memperoleh rekomendasi dari DPP PDIP, sekaligus dicalonkan menjadi Calon Walikota dan Wakil Walikota Serakarta pada Pilkada 2020.

Nama Gibran yang mulai muncul ke kancah politik sejak hasil penelitian Unisri dipublikasikan  Juli 2019 dan hasil penelitian tersebut menunjukkan popularitas Gibran yang mengimbangi Achmad Purnomo yang saat itu dijagokan PDI- P Surakarta.

Sejak saat itu, nama Gibran mulai menghiasi media, meski saat itu yang bersangkutan masih belum resmi menyatakan minatnya ke dunia politik, bahkan terkesan masih malu- malu.

Sebenarnya, lepas dari keinginan Gibran yang belum terungkapkan, dari sisi ilmu publisitas, maka publisitas yang tidak disengaja semacam itu (pengumuman hasil penelitian Unisri ), sangatlah menguntungkan.

Kemungkinan bila ada penelitian lanjutan, baik popularitas serta elektabilitasnya memungkikan akan semakin meningkat. Terlebih beberapa komunitas muda mulai ikut menunjukkan dukungannya, baik lewat spanduk serta media lainnya.

Baru beberapa bulan kemudian, tatkala Gibran mendaftar secara resmi menjadi anggota PDI- P, terlebih setelah dipanggil Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati di rumahnya, maka dari sisi analisis isi media, signal ke arah rekomendasi tampak makin jelas.

Menjadi lebih jelas lagi ketika Achmad Purnomo yang resmi diusulkan PDI-P Solo mengundurkan diri, meski alasannya Pandemi, dan Ketua PDI- P Surakarta pun belum menerima pengunduran dirinya.

Signal- signal politik yang mencuat di berbagai media, akhirnya menjadi jelas setelah Rekomendasi Turun, dan Ketua PDI- P Surakarta secara terbuka di hadapan media berjanji akan memenangkan pasangan Gibran- Teguh.

Pertanyaannya, bagaimana peluang pasangan Gibran- Teguh memenangkan Pemilihan Walikota (Pilwakot) Surakarta pada Pemilukada Desember yang akan datang?.

Santun Dan Bersahaja

Gibran Rakabuming Raka, konon sejak dulu ketika mulai berusaha tidak mau menerima estafet perusahaan ayahnya yang sudah cukup mapan. Dia bahkan membuka usaha katering yang melarang seluruh stafnya menerima order dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta , meski saat itu ayahnya adalah Walikota.

Kesederhanaan serta kesahajaannya pun berlanjut, bahkan setelah ayahnya menjadi Presiden. Berbagai media memberitakan baik dalam berkendaraan umum, bahkan ketika ke Puskesmas, dan sebagainya tetap tidak mau diistimewakan.

Publisitas media terhadapnya, ditambah bagaimana kedekatannya dengan masyarakat akar rumput, merupakan talenta akan terus meningkatkan popularitas serta elektabilitasnya, terlebih ketika rekomendasi resmi diperolehnya dan mesin politik PDI- P solid.

Selain itu, sikap santunnya akan terus diperlihatkan, ketika setelah menerima rekomendasi dia akan mengajak Ketua PDI- P silaturahmi ke Achmad Purnomo baik selaku Wakil Walikota, atau pun pesaingnya saat berebut rekomendasi.

Modal kesantunan yang sangat relevan dengan sifat masyarakat Surakarta, ini tentu sangatlah menguntungkan, terlebih hingga saat ini belum ada pasangan lain yang resmi menjadi pesaingnya.

Pendekatan ke partai lainnya tentu juga akan sangat menguntungkan, dengan tujuan ingin bersama- sama memajukan kota Surakarta.

Kebutuhan Riil

Pelaksanaan Pilkada di tengah Pandemi, terlebih wilayah Surakarta yang masih rawan bagi calon tentu memerlukan strategi khusus. Tentu para calon, termasuk pasangan Gibran- Teguh harus memahami apa yang benar- benar dibutuhkan masyarakat saat ini.

Dengan memahami kebutuhannya secara riil, kampanye serta program- programnya akan bisa dimengerti sekaligus dipercaya calon pemilihnya.

Meski secara matematis pasangan Gibran- Teguh sangat diuntungkan, namun mereka beserta tim suksesnya tidak boleh terninabobokkan oleh keunggulannya tersebut.

Sebagai calon yang mewakili kaum milenial, tentu potensi ini perlu dimaksimalkan pula, utamanya pemanfaatan media sosial (medsos) di era Pandemi sekarang ini.

Akhirnya, kombinasi popularitas, kesantunan, kesahajaan, dukungan parpol dan kaum milenial, bahkan Jokowi efek, harus dikolaborasikan melalui kegiatan, program, bahkan janji masa depan yang pada akhirnya membuat Surakarta makin maju dan masyarakatnya makin sejahtera.

(Drs Gunawan Witjaksana, M. Si Dosen dan Ketua STIKOM Semarang)

82
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>