Sebarkan berita ini:
Ketua STIKOM Semarang Drs H Gunawan Witjaksana M Si

Oleh:  Gunawan Witjaksana

Setelah tertunda, akhirnya dengan berbagai pertimbangan dari berbagai aspek, Pilkada Serentak bakal dilaksanakan pada Desember 2020. Keputusan tersebut tentu akan membawa konsekuensi mulai dari perencanaan ulang, persiapan, tahapan- tahapan langkah, hingga hari H pencoblosan, sampai tuntasnya kegiatan Pilkada itu.

Kita tentu maklum, Pandemi Covid-19 ini tentu tidak boleh menghentikan segalanya. Kondisi ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik yang sebelumnya terdampak, pelan namun pasti harus segera dipulihkan kembali.

Beberapa wilayah serta berbagai sektor telah mulai dibuka kembali, tentu dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan. Meski masih ada saja masyarakat yang abai, bahkan dengan swap test masal yang masif dalam menemukan spesimen baru penambahan pasien positif Covid-19 masih cukup tinggi, namun pilihan yang harus dilakukan adalah new normal, sembari terus bersosialisasi secara masif, dengan tujuan agar masyarakat makin cukup informasi (well informed), sehingga diharapkan mereka makin mengerti, sadar, dan akhirnya berhati- hati dalam menjalani kehidupan bersama dengan keluarga serta lingkungannya.

Kehidupan berpolitiknya pun tetap harus berjalan, karena ke depan pimpinan- pimpinan daerah terpilihlah yang diharapkan akan terus berjuang dengan rakyat untuk memajukan sekaligus menyejahterakan rakyat yang memilihnya.

Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya tahapan- tahapan Pilkada dilaksanakan?. Serta bagaimana sebaiknya rakyat menyikapinya?.

Menjaga Jarak

Karena proses Pilkada ditengah masa Pandemi Covid-19, maka tahapan- tahapannya pun harus mengacu pada protokol kesehatan yang berlaku.

Untung serta hikmah yang tanpa sadar kita alami bersama adalah masyarakat makin sadar akan perlunya komunikasi berjarak aman. Solusi yang kita ketahui bersama, pemanfaatan teknologi informasi beserta gawai sebagai perangkatnya makin familier.

Temu warga, PKK, Pengajian, bahkan Pendidikan, makin familier dengan cara online. Pertemuan bapak- bapak, ibu- ibu baik tingkat RW hingga kelompok Dasawisma, seolah tergantikan oleh WA group mulai tingkat kota, kecamatan, kelurahan, bahkan  RT serta Dasawisma.

Meski penggunaan group- group WA itu kadang masih ada yang kurang serius sehingga kadang menimbulkan friksi kecil, namun berdasarkan pengamatan kadar efek positifnya masih jauh lebih besar sekaligus fungsional.

Melalui group tersebut, komunikasi baik secara kelompok serta Antarpersona dengan jaringan pribadi (japri), cukup efektif. Meski pertemuan bulanan sudah tiga bulan berhenti secara formal, namun secara informal masih tetap berlangsung, sehingga kebersamaan serta kepedulian lingkungan tetap terjaga. Bahkan pencanangan Gubernur Ganjar Pranowo dengan istilah populer Jogo Tonggo, berlangsung efektif serta efisien melalui WA- WA group tersebut.

Karena itu, sebenarnya jaringan komunikasi dengan teknologi canggih itulah yang seyogyanya dimanfaatkan KPU/D, terlebih canggihnya teknologi, menjadikan sangat gampang serta menarik menyajikan berbagai informasi dengan berbagai kreasi pesannya.

Pengerahan Massa vs Virtual

Selain proses sosialisasi pelaksanaan Pilkada yang sebelumnya dianggap kurang efektif, proses kampanye juga merupakan tahapan yang cukup rawan. Bahkan, bila model pengerahan massa serta pengumpulan banyak orang dilakukan, pada situasi Pandemi ini tentu jauh lebih rawan. Setidaknya kerumunan rawan reaksi psikologis massa, juga rawan penyebaran virus Corona.

Karena itu, bila pada Pilkada bahkan Pilpres lalu kampanye serta sosialisasi melalui media dibatasi, pada Pilkada yang akan datang sebaiknya diperlonggar. Tujuannya selain menghindari kerawanan, juga penggunaan media, utamanya media sosial (medsos) yang bahkan group- groupnya tersebar ke berbagai lapisan masyarakat akan cukup efektif.

Akan lebih bagus lagi apabila KPU/D bekerja sama dengan para provider serta aktivis medsos, untuk memberikan informasi yang seinformatif mungkin, sekaligus untuk menetralisir informasi menyesatkan dari berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tinggal, akhirnya KPU/D merencanakan proses pelaksanaan, mulai pencoblosan dan seterusnya yang dapat meyakinkan masyarakat bahwa mereka tidak akan mengalami hal yang rawan, utamanya dari sisi kesehatan.

Sosialisasi terkait teknis dan yang lainnya utamanya kepada pelaksana lapangan harus seinformatif mungkin, karena bila tidak, mungkin akan banyak petugas lapangan yang mundur karena terlalu paranoid akibat informasi covid -19 yang sesat.

Akhirnya, kita semua tentu berharap, Pilkada serentak 2020 bisa berlangsung dengan baik, serta menghasilkan para pemimpin daerah yang makin amanah dalam memajukan daerahnya, serta menyejahterakan masyarakatnya.

Drs Gunawan Witjaksana M.Si  Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

 

60
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>