Sebarkan berita ini:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

SEMARANG[SemarangPedia] – Minimnya akses dunia kerja bagi perempuan berakibat posisi tawar mereka semakin lemah, sehingga rentan menjadi korban tindak kekerasan dan perdagangan orang.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo mengatakan kesenjangan akses dunia kerja (ekonomi) yang tinggi oleh perempuan terhadap laki-laki berpotensi menjadi korban kekerasan dan perdagangan orang.

“Berdasarkan penelitian, akses ekonomi perempuan periode 2013-2014 hanya 35%, sedangkan akses ekonomi laki-laki mencapai 64,83%.  Penelitian itu juga menunjukkan 48% penduduk perempuan berusia 15 tahun ke atas itu, tidak aktif secara ekonomi. Ini membuat posisi perempuan menjadi rentan kekerasan, baik di dalam maupun di luar rumah,” ujarnya saat menjadi narasumber Peringatan Hari Ibu ke-88 tingkat Kabupaten Demak dengan tema “Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan dalam Mewujudkan Indonesia dari Kesenjangan Ekonomi, Kekerasan dan Perdagangan Orang”, di Pendapa Kabupaten Demak, Kamis (8/12).

Pada umumnya,lanjutnya, perempuan yang tidak bisa memberikan sumbangan ekonomi dalam keluarga dan menerima kekerasan, tidak berani bertindak tegas kepada suami. Karena, perempuan memikirkan masa depannya dan anak-anaknya. Kalau pun seorang perempuan terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, mereka juga harus menghadapi tantangan di dunia kerja yang tidak mudah.

“Perempuan lebih sulit mencari pekerjaan karena dia antaranya  akan dihadapkan dengan syarat batasan umur maksimal, penampilan harus menarik, dan belum menikah. Karena dianggapnya kalau perempuan yang sudah menikah, memiliki beban dalam keluarga, sehingga dikhawatirkan tidak fokus dalam dunia kerja. Ini mempersempit ruang gerak perempuan untuk berkarya,” paparnya.

Sementara,  bagi perempuan dari keluarga miskin yang ingin bekerja, mudah diiming-imingi bekerja dengan gaji tinggi tanpa perlu memenuhi kualifikasi keterampilan atau pendidikan tertentu. Mereka mudah tergiur mendapat penghasilan besar, membuat mereka rentan menjadi korban perdagangan manusia.

“Data IOM, hingga Desember 2014, tercatat 7.193 orang menjadi korban perdagangan orang dan Indonesia menempati posisi pertama dengan jumlah 6.651 orang atau 92,46%. Dari jumlah itu, 4.000 orang lebih adalah wanita usai dewasa,”tuturnya.

Dia mengharapkan program Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperkuat pembangunan dari desa melalui UU Desa, sebagai upaya membantu perempuan dalam mengakses ekonomi. Karena, melalui program tersebut perekonomian akan bergulir di desa. (RS)

85
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>