Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Semarang mengisyaratkan persaingan hotel di Kota Semarang semakin ketat, seiring dengan bertambah jumlah hotel berbintang yang terus bermunculan.

Jumlah hotel berbintang di Kota Semarang mulai bintang satu hingga bintang lima saat ini mencapai 60 hotel, belum termasuk hotel non bintang, bahkan total bisa mencapai 100 hotel.

Heru Isnawan Ketua PHRI Kota Semarang mengatakan izin pembangunan hotel terus mengalir hingga terkesan dipermudah oleh Pemerintah Kota Semarang, sehingga investor mulai banyak ikut mendirikan sejumlah hotel di berbagai kawasan strategis di Ibukota Jateng ini.

Kondisi itu, lanjutnya, kini menjadi tantangan bagi para pelaku bisnis hotel untuk bagaimana bisa menyikapi dan berkompetisi merebut pangsa pasar, di tengah destinasi wisata belum dapat dikemas sebaik mungkin.

Menurutnya, ketika demand dan supplay tidak diperhitungkan maka akan terjadi ketimpangan dan persaingan akan berpotensi terjadi tidak sehat.

“Saya setuju kota ini sektor properti terus tumbuh, investor mulai berminat dan perekonomian bakal terus berkembang, mengingat pemerintah daerah setempat sangat bernafsu untuk membangun dan PBB akan meningkat,” ujarnya, Rabu. (4/1)

Namun, dia menambahkan tingkat persaingan dapat berpotensi menjadi tidak sehat, ketika banyak usaha yang tidak dilindungi dan izin beroperasi seperti hotel.

Saat ini bermunculan hotel ‘budget’ di Kota Semarang semakin banyak sehingga harus dihentikan atau setidaknya dilakukan izin dengan seleksi ketat, karena berpotensi mengakibatkan persaingan yang tidak sehat.

“Dengan semakin banyaknya hotel yang menawarkan ‘rate room’ di kisaran Rp300.00, sudah tentu menyeret hotel berbintang harus ikut menurunkan harga itu untuk menarik tamu, jika tidak ingin hotelnya sepi tamu,”  tuturnya.

Corporate Public Relation Manager Manajemen Hotel Dafam Ninik Haryanti juga sepakat, permasalahan perhotelan sama, yang terklihat semakin hari, pertumbuhan hotel baru kian bertambah hingga hotel satu dan lain saling bersaing.

“Kondisi itu, perlu disikapi PHRI untuk benar-benar menetapkan harga, karena banyak tarif  rate room bintang empat atau lima sekalipun masuk ke harga hotel bintang tiga,” ujarnya.

Benk Mintosih GM Hotel Star menambahkan demand dan supplay yang tidak seimbang, memang sudah terjadi. Namun ke depan diperlukan dapat menemukan solusi untuk bisa memajukan dunia pariwisata.

733
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>