Sebarkan berita ini:

KLATEN[SemarangPedia] – Sebanyak 600 Kepala Keluarga (KK) di Desa Balerante Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten memasuki musim kemarau mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat desa di lereng Gunung Merapi itu dilanda kekeringan.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi lokasi itu untuk memberikan bantuan air bersih sebanyak 30 tangki kepada masyarakat, sekaligus untuk mencari solusi jangka panjang mengatasi kekeringan di wilayah itu.

Dari warga, relawan BPBD dan Kepala Desa, Ganjar mendapatkan informasi di bawah desa, terdapat sumber mata air. Namun, warga kesulitan untuk mengalirkan air dari bawah menuju ke desa Balerante. Selain cukup jauh, desa Balerante paling tinggi di antara desa tetangga lainnya.

“Sebenarnya ada sumber air pak, tapi letaknya di bawah desa dan cukup jauh. Jadi sulit mau ditarik ke atas. Biayanya juga pasti mahal,” tutur Sukono Kepala Desa Balerante.

Selain itu, lanjutnya, desanya terdapat tanah desa seluas 5 hektare yang dapat digunakan untuk pembuatan embung guna mengatasi kekeringan.

Kondisi itu, mendorong Ganjar meminta warga untuk mengkaji dan menganalisis kemungkinan menarik air dari bawah menuju ke desanya. Selain itu, juga meminta agar warga segera mengajukan proposal pembuatan embung.

“Coba dikaji, kemudian dihitung berapa biayanya. Setelah itu ajukan ke saya. Saya kasih waktu maksimal dua minggu untuk menghitung, kalau sudah ada nanti saya bantu. Soal anggaran, biar urusan saya dengan Bupati,” ujar Ganjar didampingi Bupati Klaten, Sri Mulyani.

Menurutnya, persoalan kekeringan memang kerap melanda warga di lereng gunung itu, mengingat lereng Merapi memiliki wilayah Kabupaten Klaten, Magelang. Namun musim kemarau lereng yang masuk wilayah Klaten sering dilanda kekeringan.

“Solusinya menarik air hingga ke wilayah desa Balerante masih agak repot. Tapi bisa dibuat bertingkat dan ada pompanya. Memang agak mahal, tapi nanti biar pak Kades menghitung,” tuturnya.

Sukono meripakan Kepala Desa yang baru dilantik dan sekarang Sukono harus membuktikan bahwa dirinya mampu menyelesaikan persoalan air di wilayahnya.

“Sebenarnya ini bisa dijadikan bisnis, bisa jadi Bumdes atau seperti Pamsimas (Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Tinggal ngitung saja berapa harganya, butuh diesel berapa, perawatan berapa dan lainnya. Saya minta segera diajukan, nanti saya carikan anggarannya,” ujar Ganjar.

Sementara itu, penyaluran bantuan air bersih yang dilakukan Ganjar disambut antusias masyarakat. Mereka berbaris antre dengan membawa ember untuk mendapat giliran jatah air.

“Senang sekali dapat bantuan air bersih dari pak Gubernur, biasanya saya sehari-hari beli air Rp150.000 satu tangki. Itu habis dalam waktu 15 hari,” tutur ibu Bejo, salah satu warga desa itu.

Dia menuturkan kekeringan yang melanda desanya sudah tiga bulan lebih. Biasanya, setiap musim kemarau, desanya mengalami kekeringan antara 5-6 bulan. (RS)

 

1
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>