Sebarkan berita ini:

1-MeristekSEMARANG[SemarangPedia] – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir menilai peristiwa yang menyebabkan ratusan siswa IPA SMAN 3 Semarang tidak lolos SNMPTN beberapa waktu lalu, merupakan kesalahan pihak sekolah.

Dia mengisyaratkan kalau tidak ada “kambing hitam” karena semua sistem SNMPTN dan sosialisasi sudah jelas.

Menteri Nasir mengatakan hal itu saat berkunjung di Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk memantau SBMPTN.

“SNMPTN telah berjalan baik, dimana semua sekolah yang mendaftar jumlahnya 21.000 sekolah. Itu dipersilakan memilih kurikulum mana yang digunakan atau yang dilakukan oleh SMA tersebut,” ujjarnya, Rabu. (1/6)

Dari seluruh SMA, lanjutnya, ada yang memilih dengan sistem pembelajaran penuh dengan semesteran ada dengan SKS. Di dalam sistem SKS, diserahkan ke sekolahan dan terdapat dua model kontinu dan diskontinu. Semua sekolah dipersilakan menentukan itu.

Dia menjelaskan dengan kapasitas sekolahan yang menentukan sistem pembelajaran semesteran atau SKS yang terbagi menjadi model kontinu dan diskontinu atau sistim on/off.

Beberapa sekolah menerapkan SKS diskontinu termasuk SMAN 3 Semarang, sehingga hanya SMAN 3 Semarang  yang bermasalah dan diindikasikan ada kesalahan pengisian mata pelajaran yang on dan off pada Pusat Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

“Melakukan pilihan diskontinu seperti di SMAN 1 Kebumen, Kudus, Salatiga. Dari SMA itu yang melakukan diskontinu, hanya SMAN 3 Semarang yang bermasalah. Berarti ada permasalahan di situ, di dalam menentukan kontinu dan diskontinu, on dan off terhadap mata pelajaran yang dilakukan dalam proses pembelajarannya,” tuturnya

Seharusnya, ddia menambahkan  ada mata pelajaran yang off, namun pada pengisian PDSS ada pelajaran yang statusnya on namun tidak diisikan nilai karena ternyata di SMAN 3 Semarang mata pelajaran tersebut seharusnya off.

“Kesalahan itulah yang dianggap sebagai penyebab tidak lulusnya ratusan siswa SMA yang masuk jajaran sekolah favorit di Semarang tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, dimana on mestinya tetap ada nilai, SMAN 3 tidak memberikan nilai. Siswa nilainya tidak penuh, akibatnya tidak bisa diproses secara sistem. Oleh karena itu yang bermasalah sekolahannya, bukan dari sistem IT yang dilakukan SNMPTN.

82
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>