Sebarkan berita ini:

16-OJKSEMARANG[SemarangPedia] –  Tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Jawa Tengah masih berada di bawah level nasional 21,84 % (literasi) dan 59,7% (inklusi) hingga masih perlu dukungan dari berbagai pembiyaan untuk mendorong aktivitas petani dan UMKM.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Panca Hadi Suryatno mengatakan pihaknya menilai Tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Jawa Tengah masih berada di bawah level nasional.

Dengan demikian, lanjutnya, OJK akan mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program yang telah diluncurkan. Beberapa program Ekonomi “Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat” di Desa Larangan Brebes yang diluncurkan pada 11 April 2016.

“Program itu untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi petani dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta memperluas akses keuangan bagi kelompok petani dan IMKM di pedesaan,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Semarangpedia.com, Sabtu (16/7).

Menurutnya, program lain Program JARING yaitu Program Jangkau, Sinergi dan Guideline, di Pelabuhan Morodemak yang diluncurka  pada 12 Mei 2016 dengan menggandeng industri perbankan dan industri keuangan non bank.

Progan itu, dia mmenambahkan sebagai upaya untuk terus mendorong akselerasi pembiayaan kepada sektor kelautan dan perikanan.

Selain itu, juga melaksanakan Seminar Kemaritiman Pasar Modal dengan tema “Pasar Modal Sebagai Sumber Pendanaan Industri di Sektor Kelautan dan Perikanan” pada 17 Mei 2016, dengan tujuan untuk lebih menyebarkan informasi terkait Pasar Modal kepada pelaku usaha di daerah.

Dengan seminar diharapkan pemanfaatan Pasar Modal di daerah sebagai sumber pendanaan dapat ditingkatkan, khususnya mendorong pengembangan usaha di sektor perikanan dan kelautan dan industri lainnya.

“Selain itu, untuk mendukung Program Pemerintah Daerah, kami telah melakukan pertemuan koordinasi dengan Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Provinsi Jawa Tengah dan industri jasa keuangan, khususnya perusahaan pembiayaan, untuk bersinergi dalam rangka mendukung program untuk meningkatkan penerimaan keuangan daerah melalui optimalisasi penerimaan pajak kendaraan bermotor,” tuturnya.

Khusus Jateng, lanjutya, hingga kini penyaluran kredit UMKM tercatat senilai Rp81,5 triliun per April 2016. penyaluran pembiayaan/kredit UMKM nasional per April 2016 hanya sebesar 18,12% dari total penyaluran kredit nasional sebesar Rp745 triliun.

“Melalui program ini, diharapkan dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan inklusi keuangan di Jawa Tengah,” ujarnya.

Sementara, hingga Maret 2016, jumlah agen Laku Pandai di Jawa Tengah mencapai 15.022 atau tumbuh 60% dibandingkan dengan Desember 2015.

Dengan demikian, diharapkan pelayanan industri keuangan di daerah-daerah terpencil dengan membuka layanan-layanan keuangan tanpa kantor dan melibatkan agen-agen yang berasal dari masyarakat sekitar dapat dilaksamakan.

Beberapa manfaat dari program Laku Pandai, bagi  masyarakat semakin melek industri keuangan dan  berkembang dengan meningkatnya jumlah nasabah. Bahkan masyarakat di daerah terpencil menjadi paham dengan produk keuangan dan mampu mengelola keuangan dengan bijak, dan bagi agen itu sendiri dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan penghasilan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan merekat. (RS)

168
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>