Sebarkan berita ini:

22-rokok-ilegalKUDUS[SemarangPedia] – Rokok ilegal tanpa pita cukai kini semakin marak beredar, bahkan pabrikan menggunakan pola berbeda, sebagai upaya untuk mengsiasati dan menghilangkan jejak operasi aparat Bea Cukai.

Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC) mengatakan  para pelaku pabrikan rokok ilegal selama beberapa tahun terakhir mengembangkan cara berbeda, untuk melakukan penyiasatan terhadap penindakan yang dilakukan aparat bea dan cukai, seperti dengan menerapkan sistem sel untuk memutus informasi dari berbagai pelaku perdagangan yang terlibat.

“Upaya itu yang sedemikian rapi. Bahkan, dalam beberapa penindakan mereka juga menjadikan warga sekitar sebagai perlindungan dari penyiataan yang dilakukan aparat. Mereka banyak mengembangkan cara untuk dapat menghindari dari pantauan petugas,” ujarnya, Kamis. (22/9)

Menurutnya, proses produksi dilakukan pada malam hari, dengan lokasi produksi di rumah tertutup, sehingga tidak banyak diketahui lingkungan di sekitarnya.

“Para petugas bea cukaipun harus melakukan upaya paksa sehingga rawan perlawanan hukum,” tuturnya.

Bahkan, dia menambahkan para pelaku melibatkan preman dan masyarakat yang diprovokasi pemilik usaha rokok ilegal, untuk menghambat petugas dalam pemeriksaan.

Menurutnya, para pelaku juga mengembangkan sistem produksi yang mengaburkan asal-usul produksi rokok itu, misalnya, tidak membuat pengenal produksi pada kemasan rokok.

“Pola sel yang diginakan panbrikan seringkali menyulitkan penindakan dan juga proses hukumnya,” ujarnya.

Dia menuturkan untuk pengiriman bahan baku dan juga hasil produksi rokok dilakukan  beberapa sopir dengan menjalankan rute sesuai dengan perintah order yang mereka terima, guna menjaga kerahasiaan pemilik dan komponen produksi lainnya.

“Perdagangan rokok ilegal yang sedemikian rapi itu, hanya untuk upaya mengaburkan informasi agar pemilk usaha tidak jelas,” ujar  Kasi Intelijen dan Penindakan KPBC Broto Setia Pribadi.

Hingga saat ini rokok ilegal yang beredar di pasaran gelap diketahui masih mencapai jutaan batang dengan puluhan jenis, bahkan dijual murah mulai Rp3.000 sampai Rp7.000 per bungkus.

131
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>