Sebarkan berita ini:

download (2)SEMARANG [SemarangPedia] – Panti Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Among Jiwo yang selama ini digunakan untuk menampung para pengemis, gelandangan, dan orang-orang terlantar (PGOT) serta anak jalanan di Kota Semarang kondisinya cukup memprihatinkan. Pasalnya, bangunan tersebut sudah tidak mampu lagi menampung para penghuni di dalamnya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Panti Rehabsos Among Jiwo Semarang, M. Ridwan saat menerima kunjungan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu di dampingi Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, Gurun Risyad Moko, Senin (13/6).

“Panti Rehabsos Among Jiwo ini idealnya hanya bisa menampung 50 orang. Tetapi sampai saat ini penghuninya sudah melebih kuota yaitu mencapai 98 orang,” kata Ridwan.

Kendati demikian, Ridwan mengaku, tidak dapat menolak ketika mendapatkan tambahan PGOT serta anak jalanan yang terjaring razia. “Pasalnya hanya disinilah tempat penampungan bagi mereka,” imbuhnya.

Bagi anak-anak jalan, Ridwan menambahkan, Panti Among Jiwo memberikan rehabilitasi maksimal selama 7 hari, jika kembali ke jalan maka pihaknya akan mengembalikan ke daerah asalnya. “Mengingat keterbatasan lahan, serta dengan terpaksa para penghuni dijadikan satu dengan yang mengalami gangguan kejiwaan,” jelasnya.

Melihat hal tersebut, Wakil Wali Kota Semarang sangat prihatin. Hal tersebut dinilai tidak bagus, karena penangannya tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. “Ini semua tidak akan menyelesaikan masalah dan ini harus dicari solusinya,” katanya.

Wanita yang akrab disapa Ita menyatakan, bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar dapat membedakan dan memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. ”
“Untuk penyediaan dokter khusus untuk menangani penghuni yang sakit, saya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesahatan untuk hal itu, pasalnya dokter spesialis gangguan jiwa tidak ada yang stay disini,” ujarnya.

Meski demikian, Ita menyanyangkan, Dokter yang biasa berkunjung disini adalah dari Puskesmas. “Seharusnya ada dokter yang terus memantau para penghuni gangguan jiwa, agar bisa memilah yang mana bisa disembuhkan dan tidak bisa disembuhkan,” jelasnya.

Menangapi hal tersebut, Ita menyatakan, akan berkoordinasi dengan Wali Kota Semarang terkait hal ini. “Ini perlu penanganan serius, untuk langkah awal perlu adanya pemindahan ke tempat yang lebih representatif. “Dan untuk menangani hal ini saya akan berkoordinasi denga pihak yang terkait,” tungkasnya.

691
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>