Sebarkan berita ini:

18-irwan1SEMARANG[SemarangPedia] – Pasar industri jamu masih berpeluang cukup besar untuk berbagai jenis varian produk baru, sehingga diperlukan kejelian produsen untuk melihat pasar jika menginginkan inovasinya bisa diterima konsumen.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul Tbk Irwan Hidayat mengatakan pasar industri jamu masih berpeluang cukup besar dan bisa dimanfaatkan kalangan produsen jamu jika mampu melakukan inovasi dengan berbagai varian jenis jamu.

Menurutnya, potensi pasar jamu itu masih belum banyak digarap sejumlah industri jamu di Indonesia, mengingat sistem produksi yang dilakukan mereka terlihat masih kurang efisien, sehingga produk yang dihasilkan kurang bervariasi.

Indonesia sendiri, lanjutnya, yang terletak di daerah tropis memiliki keunikan dan kekayaan hayati yang sangat luar biasa, tercatat saat ini terdapat sebanyak 30.000 jenis tanaman obat tumbuh di Indonesia, namun hanya 500 jenis tanaman yang sudah digunakan sebagai bahan jamu.

“Meskipun yang sudah tercatat sebagai produk Fitofarmaka [bisa diresepkan] baru ada lima produk dan produk obat herbal terstandar baru mencapai 28 produk. Melihat potensi yang masih belum digali sangat besar dalam pengembangan obat herbal terutama yang merupakan produk herbal asli Indonesia,” ujarnya seusai memaparkan dalam sebuah seminar yang berthema “Mengembalikan Kejayaan Jamu Nusantara” di hotel Grasia Semarang, Selasa (18/10).

Selain itu, dia menambahkan saat ini banyak pelaku industri jamu skala kecil kesulitan dalam masalah pengajuan perizinan terhadap produknya, termasuk dalam hal edar produk maupun membuka usaha baru.

Kondisi itu, kata Irwan, dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan industri di tanah air, sehingga diharapkan pemerintah dapat memberi kelonggaran bagi pengusaha jamu pemula.

Pengobatan tradisional menurut Undang-undang No 36/2009 tentang Kesehatan melingkupi bahan atau ramuan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian [galenik] atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan.

Sesuai dengan pasal 100 ayat (1) dan (2), sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman digunakan akan tetap dijaga kelestariannya dan dijamin Pemerintah untuk pengembangan serta pemeliharaan bahan bakunya.

Dengan demikian, lanjut Irwan, kalangan industri juga diharapkan dapat membuka pola ke depan dengan semakin peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapkan standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB  sampai HACCP agar keyakinan masyarakat atas mutu produk yang dihasilkan bisa diperoleh.

Bahkan, menurut Irwan, dukungan dari semua pihak, baik para pelaku industri jamu, akademis dan lainnya juga diharapkan dapat memberikan masukan tentang hasil olahan tanaman herbal dengan kualitas tinggi, keterlibatan dunia perguruan tinggi dan swasta untuk melakukan uji coba khasiat obat herbal sangat dibutuhkan dalam melakukan inovasi.

“Tidak hanya itu, kemudahan peraturan dan dukungan penuh pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan dan BPOM akan menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara terkemuka yang menghasilkan obat herbal bermutu tinggi dan menjadikan pengobatan tradisional terutama herbal bukanlah sekedar pengobatan alternatif belaka,” tuturnya.

Irwan Hidayat
Irwan Hidayat

Di negara Asia lainnya terutama Cina, Korea dan India untuk penduduk pedesaan, obat herbal masuk dalam pilihan pertama untuk pengobatan, di negara maju pun saat ini kecenderungan beralih kepengobatan tradisional terutama herbal menunjukkan gejala peningkatan yang sangat signifikan.

Irwan menuturkan prospek industri jamu masih semakin menjanjikan, mengingat Indonesia memiliki potensi pasar yang baik untuk mengembangkan berbagai produk jamu.

Selama tahun lalu total ekspor jamu ke berbagai negara mencapai senilai US$9,7 juta dari tahun sebelumnya hanya US$8,3 juta. Beberapa tahun terakhir ini permintaan jamu mengalami peningkatan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik.

Bahkan, lanjutnya, omset penjualan industri jamu tahun lalu meningkat hingga mencapai sebesar Rp15 triliun dari tahun sebelumnya hanya senilaiRp13,5 triliun.

Tahun ini, dia menambahkan  omzet penjualan jamu diperkirakan bakal naik lagi menjadi Rp20 triliun dan ke depan kalangan industri jamu akan meningkatkan daya saing melalui produk yang berkualitas dengan standar pembuatan dan CPOTB yang benar.

Menurutnya,  sekarang ini yang terpenting  berupaya melindungi produk jamu Indonesia tidak diakui kreasi dari negara lain, seperti batik, reog Ponorogo  dan sejumlah lagu yang telah diklaim oleh negara lain.

Dia meyakini dengan mekampanyekan minuman jamu dengan berbagai cara dan tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga negara-negara lain bakal bisa dilakukan kalangan industri. (RS)

125
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>