Sebarkan berita ini:

18-gubernur-buka-jamuSEMARANG – Kondisi pasar jamu di Jawa Tengah tahun ini masih tetap tumbuh, meski pencapainnya tidak sebesar tahun lalu, akibat terpengaruh ekonomi global yang masih terus berlanjut, termasuk melanda Indonesia.

Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Jawa Tengah, Nyoto Wardoyo mengatakan pengaruh ekonomi global berdampak langsung terhadap pertumbuhan jamu di Indonesia.

Kondisi itu, lanjutnya, akan berimbas pula terhadap melemahnya permintaan jamu di pasar ekspor, sehingga berpengaruh terhadap pendapatan industri jamu nasional yang juga terseret menurun.

“Hingga akhir 2016, kami memproyeksikan omzet industri jamu secara nasional hanya berkisar Rp20 triliun. Nilai sebesar itu tumbuh tipis dibanding pencapaian tahun lalu yang mampu mencapai sebesar Rp17 triliun dan kontribusi pasar eksporhanya menyumbang 15%-20%,” ujarnya  di sela-sela Musyawarah Daerah (Musda) dan seminar yang mengusung thema “Mengembalikan Kejayaan Jamu Nusantara” di hotel Grasia Semarang, Selasa (18/10).

Sedangkan khusus di wilayah Jawa Tengah, lanjut Nyoto, hingga saat ini masih menjadi barometer bagi industri obat tradisional di Indonesia. Pangsa pasar industri jamu di provinsi ini kini mencapai 60% terhadap nasional.

Dia menambahkan  dari 252 industri baik skala besar maupun Usaha Kecil Menengah (UKM) yang tergabung dalam GP Jamu Jateng, terdapat beberapa perusahaan yang berorientasi ekspor, satu di antaranya PT Sido Muncul.

“Pasar ekspor paling besar terdiri ke Arab, Hongkong, Thailand dan negara-negara lainnya di Asia. Saat ini juga sudah merambah eropa timur. Sedangkan produk yang memberikan kontribusi penjualan ekspor paling banyak adalah jamu pegel linu, tolak angin, pelangsing dan lainnya,” tuturnya.

Menurutnya, perkembangan industri jamu di Jawa Tengah semakin mmebaik, meski saat ini kondisi ekonomi sedang melambat. Setiap tahunnya anggota GP Jamu terus bertambah 3-5%.

Musim kemarau basah yang terjadi di Jawa Tengah akhir-akhir ini, kalangan industri jamu besar berencana untuk mendirikan gudang bahan baku, sebagai upaya selain untuk membantu penyerapan hasil panen para petani, juga diharapkan bisa menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi para pelaku industri jamu menenagh kecil.

“Musim kemarau basah yang sekarang ini sedang terjadi di Jawa Tengah berpengaruh pada masa panen dan kualitas produk atau bahan baku, sehingga kami berencana menghadirkan gedang bahan baku sebagai saran menyerap seluruh hasil panen petani dan menjaga ketersediaan bahan baku,” ujarnya. (RS)

406
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>