Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Pelayanan program Keluarga Berencana (KB) Gratis Sejuta Akseptor yang dillakukan sesuai protokol kesehatan mulai digelar di sejumlah lokasi di Kota Semarang, Senin (29/6).

Kegiatan itu, juga ditinjau langsung oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk memastikan pelayanan KB gratis dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan, Bahkan juga dilaksanakan berdialog langsung dengan akseptor.

Istikharoh, seorang akseptor tidak menyangka akan bertemu Gubernur saat sedang mengikuti program KB gratis di Kantor Kecamatan Semarang Utara.

Menurutnya jika KB tidak berbahaya bagi kesehatan maupun alat reproduksi wanita.

“Saya sudah lama pakai KB (susuk). Ada yang bilang kalau KB pakai ini berbahaya, bisa menyebar ke seluruh tubuh, atau tidak bisa haid. Tapi nyatanya tidak, Pak, itu hanya mitos. Saya aman-aman saja,” ujarnya.

Dia menuturkan tetap melanjutkan program KB-nya, karena ingin menjaga kualitas keluarganya. Selain karena kondisi ekonomi turun selama pandemi Covid-19 berlangsung. Usaha penjualan susu sapi miliknya ikut terdampak pandemi.

“Saya bekerja jualan susu sapi, dan selama pandemi menurun pendapatannya. Ya, saya mau meneruskan KB,” tuturnya.

Menanggapi itu, Ganjar meminta meminta para akseptor juga mampu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat KB.

“Tidak takut ikut KB ya, ibu. Kalau bisa tolong disampaikan kepada yang lain tentang manfaat KB,” ujar Ganjar.

Menurutnya, sebagian masyarakat masih belum memahami manfaat KB secara detail. Bahkan mereka khawatir terkait risiko yang akan dialami akseptor, karena minimnya pemahaman terhadap KB tersebut.

“Penjelasan lebih detail sosialisasi tentang KB perlu melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama sampai lembaga adat jika ada di daerah setempat. Itu untuk menjelaskan dengan baik, dengan rasionalitas yang bagus kepada masyarakat. Ada yang bilang mau KB, tapi takut tidak haid, takut gemuk. Sehingga edukasi sangat penting untuk disampaikan,” tuturnya.

Ganjar juga meminta supaya sosialisasi terus dilakuikan secara masif. Selain itu, penerapan protokol kesehatan diperketat.

“Tidak usah takut. Prosedurnya tetap sama asalkan protokol kesehatan diperketat. Selain itu, yang mengelola juga jangan ceroboh, harus punya disiplin tinggi,” ujarnya. (RS)

 

5
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>