Sebarkan berita ini:

BATANG[SemarangPedia] – Pemkab Batang menggelar progam ‘Toko Bahasa’ sebagai kegiatan untuk memberikan pembekalan kewirausahaan kepada ratusan pekerja migran yang sudah purna dan kembali ke kampung halaman.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Batang Tulyono melalui Kabid Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gandi Windu Nurcahya mengatakan melalui kegiatan yang dikemas dalam program pengembangan dan pendampingan “Toko Bahasa” ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bekerja di luar negeri hukan menjadi pilihan utama.

“Program itu, sebagai upaya agar mereka memiliki kesadaran dan kemampuan berwirausaha, hingga dapat bersinergi dengan program-program pemerintah, sehingga  bekerja ke luar negeri bukan lagi sebagai pilihan utama,” ujarnya, Selasa (12/2)

Menurutnya, pelatihan ini sementara dipusatkan di Desa Kedungmalang Kecamatan Wonotunggal, karena di Desa tersebut merupakan basis buruh migran di wilayah Kabupaten Batang.

Selain itu, lanjutnya, melalui program ini juga diharapkan dapat mengembangkan potensi lokal Desa Kedungmalang melalui gerakan pemberdayaan masyarakat, selain pekerja migran purna program ini juga diikuti para remaja desa sebagai kader penggeraknya.

Dia menuturkan di Desa Kedungmalang, saat ini terdapat sekitar 200 orang pekerja migran yang mengadu nasib di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura dan Arab Saudi. Sedangkan buruh migran yang sudah pulang atau purna mencapai 100 orang lebih. Rata-rata pekerja migran purna adalah kalangan perempuan usia produktif.

Pekerja migran purna, dia menambahkan yang mendapatkan pendampingan, diprogreskan setidaknya memiliki kegiatan produktif, tahap sekarang tengah menyelaraskan pemikiran antara Pendamping, Kelompok dan Pihak Desa. Seperti mengerucutkan produk yang akan di branding dan strategi pemasaran serta inovasi.

Produk yang disiapkan meliputi produksi Sale Pisang Aneka Rasa misalnya, Sale Pisang Anti Baper, Sale Pisang Anti Galau, Sale Pisang Anti Mainstream dan Sale Pisang Anti Pati.

Terakhir membuat ‘Toko Bahasa’, sebagai Strategi Marketing dan Wisata. Ketika semua elemen seperti SDA, SDM serta Produk-produk sudah siap, maka selanjutnya adalah memanfaatkan potensi pekerja migran purna yang mampu berbahasa asing seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Mandarin dengan baik.

“Potensi tersebut sebenarnya kalau dikelola dengan baik dapat menjadi aset yang luar biasa untuk Desa Kedungmalang di masa mendatang seperti untuk berjualan dan travel guide,” tuturnya.

Program pelatihan ini, tutur Gandi, akan terus dikembangkan, tidak hanya di Desa Kedungmalang, namun meluas ke Desa yang memiliki jumlah pekerja migran yang besar.

Menurut data yang tercatat di Disnaker Batang total mencapai sebanyak 283 orang menjadi pekerja migran dan tercatat 233 orang di antaranya dari kalangan kaum perempuan.

Sedangkan pekerja migran yang tidak terdaftar di Disnaker Batang mencapai sekitar 5.000 orang.  Ini menunjukkan bahwa pekerja migran lebih memilih berangkat melalui Penyalur Jasa Pekerja Migran Indonesia (PJPMI) ilegal diabnding melalui Disnaker ataupun PJPMI resmi. (WAN/RS)

5
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>