Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menggelar Rakor sebagai tindak lanjut pembahasan kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di wilayahnya, untuk menghadapi lonjakan jumlah positif Covid-19 akibat penambahan klaster baru.

Rakor digelar bersama para camat dan kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, Rabu (8/7).

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi  mengatakan ada dua poin inovasi, yaitu pembentukan kampung hebat siaga Covid-19, serta pemetaan wilayah dan pemantauan klaster oleh masing-masing pemangku wilayah.

Menurutnya, kampung hebat siaga Covid-19 merupakan sebuah gerakan mandiri secara swadaya di masing-masing kampung, untuk mengantisipasi penyebaran covid di wilayahnya.

“Nantinya akan ada posko di pintu masuk wilayah yang digerakkan oleh warga, terkait pengecekan suhu badan para pendatang, penerapan SOP seperti masker dan cuci tangan dengan sabun, pengaktifan kegiatan ekonomi masyarakat, pembentukan embung di mana ada dapur umum bagi warga tidak mampu, pengolahan kain perca untuk diubah menjadi masker, serta gerakan peningkatan roda ekonomi di wilayahnya,” ujar Hendi [panggilan akrab Hendrar Prihadi itu.

Dia mengintruksikan mulai Kamis (9/7) camat harus mengumpulkan para lurah untuk segera bergerak bersama instansi terkait, agar membentuk paling tidak satu kampung hebat siaga Covid-19 pada minggu ini. Kemudian disusul kampung-kampung hebat lainnya di kelurahan lain.

“Susun segera kriteria apa saja yang harus disiapkan oleh lurah dan warga untuk membentuk kampung siaga ini sebagai inovasi kita. Targetnya, semua kampung memiliki kemandirian secara swadaya dalam menghadapi kondisi terbaru Covid-19 di Kota Semarang,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, juga meminta para camat dan kepala dinas untuk disiplin melakukan penegakan Peraturan Wali Kota dengan melakukan pemetaan wilayah yang dilakukan setiap hari secara fokus. Seperti wilayah mana di sebuah kecamatan yang merupakan titik paling ramai seperti Tlogosari di Kecamatan Pedurungan.

“Upaya teknis lainnya yaitu penataan dan patroli klaster-klaster seperti pasar, pelayanan medis seperti rumah sakit dan puskesmas, serta pabrik sebagai klaster baru penambahan kasus secara signifikan di Kota Semarang. Saya menyarankan untuk dilakukan sterilisasi di pabrik serta ditempatkan chamber untuk mensterilkan para pekerjanya,” ujarnya.

Rakor juga dihadiri para kepala pasar untuk melakukan upaya lebih keras lagi dengan mendisiplinkan para penghuni pasar dengan SOP kesehatan.

Sebagai klaster yang paling mendominasi, tutur Hendi, para camat diminta dapat berkoordinasi dengan Danramil dan Kapolsek untuk menyisir pasar, pabrik, perusahaan, dan industri di masing-masing wilayahnya agar tertib SOP.

Hendi memahami ada kekhawatiran berbagai pihak terkait Covid-19 ini. Namun, diingatkan jangan sampai terlalu ketakutan, karena dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, dari 2.185 kasus positif di Kota Semarang, sebanyak 1.005 orang terkonfirmasi sembuh. Sementara, sisanya 972 orang masih dalam perawatan, dan 208 orang meninggal.

“Yang perlu kita waspadai adalah masyarakat di usia 55 tahun ke atas yang masih aktif beraktivitas. Minta para takmir masjid untuk mendisposisikan kepada yang lebih muda, ibu-ibu pengantri sembako agar kita imbau untuk berada di rumah saja,” tutur Hendi.

Selain itu, dia menambahkan yang perlu diwaspadai adalah terkait penyakit bawaan yang menyertai. Kematian Covid-19 di Jateng disertai penyakit lain, seperti 36,2% dari penyakit diabetes melitus, 35% hipertensi, 8% ginjal kronis, 7,4% gagal jantung, 6,8% stroke dan 3,7% jantung koroner. Jenis penyakit yang bermula dari pola hidup warga. (RS)

 

5
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>