Sebarkan berita ini:

6-kekerasananakSEMARANG[SemarangPedia] – Pemprov Jateng terus melakukan berbagai upaya untuk menekan kasus tindakan kekerasan terhadap anak di wilayahnya, yang belakangan mengalami peningkatan.

Kepala Dinas Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah Sri Kusuma Astuti MSi mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan kasus tindak kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, pihaknya menjalin jejaring dengan organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dan pihak terkait lainnya melalui berbagai program, di antaranya program kabupaten/kota layak anak, serta mengembangkan kelompok perlindungan perempuan dan anak berbasis masyarakat.

“Kota layak anak kami laksanakan sampai di tingkat desa, bahkan di Kota Magelang sudah sampai tingkat RW. Kabupaten dan kota layak anak meliputi 31 indikator di antaranya hak anak mendapat layanan kesehatan, pendidikan, bermain, berekreasi, serta tempat-tempat umum seperti puskesmas dan tempat rekreasi yang ramah terhadap anak,” ujarnya, di Semarang.

Dia menyebutkan kasus kekerasan terhadap anak yang masuk ke pusat layanan terpadu yang tersebar di 35 kabupaten/ kota se-Jateng, sejak dua tahun terakhir mengalami penurunan.

Namun data tersebut bukan berarti menyatakan adanya penurunan di lapangan, karena masih mungkin ada kasus-kasus yang tidak terlapor atau masuk ke pusat layanan terpadu.

“Perlu menggencarkan sosialisasi agar warga segera melapor apabila mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap anak, baik melalui sms ke gubernur, BP3AKB, atau datang langsunng,” tuturnya.

Sementara anggota Komisi E DPRD Jateng M Zen menilai penyebab utama kekerasan pada anak dipicu  faktor ekonomi atau kemiskinan.

Dia mencontohkan kasus yang baru terjadi beberapa hari lalu di wilayah Kabupaten Grobogan, seorang ibu tega menggorok anak kandungnya yang berusia lima tahun akibat tekanan ekonomi.

“Kemiskinan menjadi faktor yang berpengaruh signifikan yang angkanya mencapai 71%. Maka ini harus kita evaluasi bersama untuk mengambil kebijakan selanjutnya agar kasus kekerasan anak tidak lagi semakin parah,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, dia menambahkan faktor keluarga dan lingkungan juga mempunyai andil besar. Faktor perceraian orangtua atau keluarga tidak harmonis dapat menyebabkan anak melakukan tindak kekerasan.

Dengan demikian, lanjutnya, aspek spiritualitas mempunyai peran penting untuk menghindarkan anak-anak menjadi korban atau pelaku tindak kekerasan. (RS)

73
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>