Sebarkan berita ini:

JAKARTA[SemarangPedia] – Gojek berkomitmen mendukung ketahanan ekonomi selama masa pandemi Covid-19 di Kota Semarang dengan ekosistem ekonomi digital yang dimiliki memberikan solusi teknologi dan non-teknologi yang ditawarkan platform digital Gojek untuk membantu pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).

Para pelaku UMKM di Kota Semarag dapat beradaptasi sehingga bisa bertahan di situasi pandemi Covid-19 dan tetap optimis mamapu terus tumbuh ke depan. Salah satunya melalui kemudahan migrasi UMKM dari offline ke online, atau mempercepat UMKM untuk “go digital.”

Demikian temuan utama dari riset terbaru Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang berjudul, “Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Semarang Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19.”

Dr Alfindra Primaldhi, Peneliti LD FEB UI memaparkan, “riset ini menunjukkan peran ekosistem ekonomi digital dalam membantu UMKM, khususnya usaha mikro, untuk bertahan di masa pandemi. Kondisi pandemi ini menguji resiliensi (ketahanan), dan kemampuan adaptasi para pelaku usaha di masa krisis. Salah satu adaptasi itu adalah mengubah usaha tradisional menjadi usaha digital.

Tampak juga bahwa para pelaku usaha cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi, namun mereka juga tetap optimis dengan berada dalam suatu ekosistem digital, usaha mereka dapat tetap tumbuh ke depannya, dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi.

Riset LD FEB UI menunjukkan bagaimana GoFood menjadi penyangga ekonomi di Kota Semarang bagi mereka yang penghasilannya terdampak pandemi terutama pekerja swasta dan profesional. Riset menemukan 44% Mitra GoFood yang disurvei baru bergabung saat pandemi Covid-19 (sejak Maret 2020), di antara mitra tersebut, 93% adalah pengusaha skala mikro, bahkan 44% di antara mereka merupakan pengusaha yang pertama kali mulai berbisnis.

“Riset LD juga menemukan mayoritas mitra UMKM menganggap mereka mampu beradaptasi di situasi pandemi, karena berada di ekosistem Gojek. UMKM yang merasa mampu beradaptasi selama pandemi dengan menjadi mitra adalah 90% mitra UMKM GoFood, 96,7% mitra UMKM social seller  pengguna GoSend dan 91,8% mitra UMKM GoPay,” ujar Dr Alfindra.

Hal ini, lanjutnya, dikarenakan, mitra menganggap solusi teknologi dan non-teknologi dari Gojek membantu keberlangsungan usaha mereka. Mitra UMKM GoFood merasakan manfaat dari fitur teknologi pengaturan promosi mandiri (69%) dan komunitas partner GoFood (35%). Sementara mitra UMKM social sellers pengguna GoSend sangat merasakan manfaat dari fitur Layanan GoSend dalam Kota (82%) dan Layanan GoSend Antar-Kota (37%). Sedangkan, Mitra UMKM GoPay merasakan manfaat dari fitur penerimaan pembayaran non tunai (83%) dan aplikasi GoBiz (60%).

Menurutya, mayoritas mitra akan tetap bermitra dengan Gojek untuk jangka panjang (87%), karena mereka merasa dapat bertahan bersama Gojek (90%). Sekitar 89% mitra cenderung optimis bersama Gojek usaha mereka akan tetap tumbuh, penghasilan kembali seperti sebelumnya, dan dapat mencukupi kebutuhan diri dan keluarga.

Riset LD juga mengungkapkan 94% mitra driver di Kota Semarang mendapatkan bantuan dari Gojek selama masa pandemi Covid-19 dan 86%  mitra mengapresiasi bantuan tersebut. Semangat gotong royong sangat tercermin di ekosistem Gojek dalam bentuk upaya saling membantu di tengah pandemi. Di mana 47% mitra driver masih memberikan bantuan sosial kepada keluarga, tetangga, dan sesama mitra. 78% mitra juga optimis penghasilannya akan kembali seperti sebelumnya dan 82% dari mitra driver optimis bahwa kemitraan mereka dengan Gojek dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. 92% dari mitra driver juga akan melanjutkan kemitraan dengan Gojek seterusnya dengan batas waktu tak terhingga.

Semangat gotong royong juga terjadi di mitra lainnya. Mayoritas mitra GoFood (72%) memberikan bantuan sosial. Hampir setengah dari mitra GoFood memberikan bantuan ke driver ojek online (30%).

Dr Paksi CK Walandouw, Wakil Kepala LD menuturkan pada 2019 kontribusi mitra GOJEK dari lima layanan (GoRide, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay) ke perekonomian Indonesia mencapai sebesar Rp13,5 triliun bila menggunakan metode nilai tambah. Sementara, dengan menggunakan metode pendapatan domestik regional bruto (PDRB), ekosistem digital Gojek nilai produksinya mencapai Rp13,1 triliun atau menggerakkan 6,9% PDRB Kota Semarang.

Di tingkat nasional, tutur Paksi, sebelum pandemi, mitra Gojek dari lima layanan (GoFood, GoPay, GoSend, GoCar dan GoRide) berkontribusi sebesar Rp104,6 triliun pada ekonomi Indonesia pada 2019. Bila menggunakan metode perhitungan pendapatan domestik bruto (PDB), nilai produksi di ekosistem digital Gojek selama tahun lalu setara dengan 1% PDB nasional Indonesia.

“Tidak hanya berdampak terhadap UMKM di dalam ekosistem Gojek, UMKM di luar ekosistem Gojek, seperti penyedia bahan baku di pasar dan bengkel kendaraan juga mendapatkan manfaat dari kehadiran Gojek di kota Semarang, dengan mengalami peningkatan omzet sebesar 51%,” tuturnya.

Paksi menuturkan keberadaan Gojek di Semarang juga menimbulkan efek domino di sektor lainnya. Dampak multiplier, atau kontribusi tidak langsung keberadaan Gojek pada PDRB Semarang pada 2019 mencapai Rp1,5 triliun. Ini dihitung dari pendapatan UMKM di luar ekosistem Gojek  (seperti bengkel yang digunakan mitra pengemudi, atau pedagang pasar yang menjual bahan baku ke mitra GoFood) setelah Gojek beroperasi di Semarang.

Riset LD FEB UI ini dilakukan di beberapa wilayah Indonesia dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka untuk melihat kontribusi Gojek pada 2019. Sedangkan untuk riset di masa pandemi Covid-19 dilakukan melalui survei online di wilayah yang sama. Jumlah responden mitra pengemudi dan UMKM untuk survei online dan offline di Kota Semarang adalah sebesar 3.814.

Penentuan responden penelitian dilakukan dengan pencuplikan acak sederhana (simple random sampling) dari mitra yang aktif dalam tiga bulan terakhir. Sampel penelitian ini mewakili populasi mitra pengemudi GoCar dan GoRide; mitra UMKM GoFood dan GoPay; mitra UMKM social seller pengguna GoSend.

Untuk UMKM lain di luar ekosistem Gojek (bengkel, pedagang pasar) di wilayah penelitian, dilakukan dengan metode purposif. Riset ini merupakan salah satu riset dengan skala dan cakupan terbesar pada industri ekonomi digital Indonesia pada saat pandemi. (RS)

18
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>