Sebarkan berita ini:

SEMARANG [SemarangPedia] – Penerapan Sentralisasi Sistem Pelayanan dan Pengawasan atau Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) yang berlaku di Semarang,  dengan operator jam kerja dari  Senin-Jumat akan menghambat pengiriman barang dan menimbulkan biaya logistik tinggi.

Elvis Wendri, Pembina DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Jawa Tengah  mengatakan jasa logistik dalam layanan dari Bea dan Cukai membutuhkan pelayanan yang cepat jadi tidak bisa dibatasi jam operasional kerjanya.

“Contoh saja layanan CEISA TPB di Kawasan Berikat yang beroperasi saat jam kerja, mulai pukul 08.00-17.00 WIB dan diperpanjang hingga 20.00 WIB, nah kalau ada barang yang datang di atas jam operasional tersebut, jadi tidak bisa diproses dan diproses besoknya, sehingga aktivitas layanan itu tersendat satu hari, bahkan menimbulkan keresahan bagi perusahaan jasa titipan (PJT),” ujarnya dalam kunjungan ke Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY, Rabu. (26/4)

Ketua Bidang Internasional Asperindo Jateng Rachdi Satoto menambahkan jika jam operasional tersebut di terapkan untuk pengeluaran barang impor yang dikenal sebagai BC 2.3, akan merugikan pihak industri.

“Konsekuensinya barang akan sulit di kirim terlebih pada barang sampel, contohnya dari perusahaan garmen yang akan dirugikan dimana, barang yang seharusnya dikirim atau barang yang diterima akhirnya tersendat keesokan harinya,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Kantor Bea Cukai Semarang, Iman Prayitno berkomitmen untuk selalu berusaha membantu mengkomunikasikan segala kendala yang dihadapi pengguna jasa ke Kantor Pusat DJBC, mengingat administrasi dan server aplikasi CEISA TPB terpusat di Jakarta.

“Untuk PJT yang meminta tambahan layanan jam operasional tidak bisa berdiri sendiri, karena dibatasi oleh jam layanan. Maka dari itu, perusahaan kawasan berikat harus sama-sama dibuka layanan tersebut,” ujarnya.

Imam menuturkan pihaknya  sudah membuat surat tembusan ke kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) perihal BC 2.3 untuk pengeluaran barang impor.

“Untuk pemasukan barang tidak terlalu berisiko, jadi kami perioritaskan untuk pengeluaran barang impor yang cenderung memiliki resiko,” tuturnya.

Sementara Kepala Kanwil DJBC Jateng dan DIY Untung Basuki mendorong kepada Bea dan Cukai Semarang untuk membuka layanan itu sesuai dengan permintaan dari PJT.

“Terpenting adalah ada izin pegawai dari perusahaan di kawasan berikat, kalau barang masuk saya kira tidak apa-apa,” ujarnya.

Seperti diketahui, mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal No 351/BC/2017 terhitung 1 April 2017 Penerapan Sentralisasi Sistem Pelayanan dan Pengawasan atau Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) TPB diterapkan secara penuh (mandatory) dan tidak bisa dilakukan dengan manual lagi.

Dengan adanya CEISA, seluruh sistem pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan termonitor, transparan untuk mendukung layanan terintegrasi nasional. Aplikasi CEISA TPB merupakan aplikasi penyampaian dokumen secara elektronik yang mengintegrasikan semua jenis dokumen perijinan Kawasan Berikat dalam satu aplikasi.

Namun demikian, layanan CEISA TPB di Kawasan Berikat yang beroperasi saat jam kerja—mulai pukul 08.00-17.00 WIB dan diperpanjang hingga 20.00 WIB—menimbulkan keresahan bagi perusahaan jasa titipan (PJT). (RS)

119
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>