Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Rendahnya lelang harga jual 72 merek dagang PT Perindustrian Njonja Meneer atau Jamu Nyonya Meneer diprotes para karyawan eks Nyonya Meneer melalui pengacaranya Yeti Ani Etika.

Kuasa hukum eks karyawan industri jamu menganggap nilai jual itu jauh di bawah nilai apraisal pada penawaran lelang di KPKNL Semarang senilai Rp200 miliar.

“Kabar terbaru aset merek 72 item dilelang KPKNL Semarang dengan harga kurang lebih Rp10,2 miliar,” ujarnya, Selasa (11/6).

Menurutnya, kabar dari salah atau kurator PT Nyonya Meneer bernama Ade Liansah sejak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang pada 3 Agustus 2017 lalu, ribuan karyawan belum menerima gaji dan pesangon.

Kabar snater, lanjutnya, kurator Wahyu Hidayat telah melakukan penjualan di bawah tangan secara notariel, yakni 72 aset tak berwujud berupa merek dagang.

“Dua kurator itu tidak satu suara, kurator Ade Liansah menolak menandatangani penjualan bawah tangan. Kalau posisinya seperti ini tentunya tidak sah, harus dua-duanya yang menandatangani,” tutur Yeti.

Dalam catatannya, dia menambahkan Nyonya Meneer memiliki hutang kepada kreditur (karyawan) sebesar Rp160 miliar.

Surat Kemenkumham Dirjen Kekayaan Intelektual No.HK1.4-UM.01.01-378, tanggal 28 Oktober 2028, perihal informasi terkait merek memiliki Nyonya Meneer, menyatakan bahwa Boedel Pailit dapat diperjual belikan atau dialihkan haknya kepada pihak lain dengan syarat jangka waktu perlindungan merek-merek terdaftar tersebut masih berlaku dan tidak dalam sengketa di pengadilan.

“Bilamana jika aset dijual dan izin merek dagang diperpanjang maka harganya tidak Rp 10,2 miliar. Sebagai perbandingan, dua merek dagang Rudy Hadisuwarno satu merek saja hargai Rp50 miliar, Nyonya Meneer ada 72 merek,” ujarnya.

Pengacara yang membawahi kuasa hukum 83 karyawan tersebut akan mengajukan surat keberatan dan pertimbangan hukum ke Pengadilan Negeri Semarang, dengan tembusan ke Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Disnaker Jateng.

Seperti diketahui sebelumnya kedua kurator kasus PT Nyonya Meneer tidak menemukan kesepahaman alias deadlock, akibat adanya perbedaan pendapat saat dilakukan pertemuan hinga dua kali.

Pengadilan Negeri (PN) Semarang membenarkan adanya perbedaan pendapat kurator PT Nyonya Meneer tersebut dalam penjualan 72 merek.

Humas PN Semarang menyebutkan salah satu kurator Ade Liansyah tidak sepaham dalam penjualan 72 merek PT Nyonya Meneer, karena  setelah pertemuan dua kali pertemuan pada 21 dan 25 Februari laau kedua kurator tidak menemukan kesepahaman hingga deadlock.

Salah satu kurator Ade Liansyah tidak sependapat dengan kurator lain untuk menjual merek PT Nyonya Meneer, sehingga para kurator meminta waktu untuk menempuh langkah berikutnya.

Penawaran tertinggi 72 merek PT Nyonya Meneer senilai Rp10,25 miliar dan sudah ada peminatnya. Namun, jika masih terjadi deadlock kedua kurator PT Nyonya Meneer akan diselesaikan melalui undang-undang kepailitan. (RS)

35
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>