Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Masyarakat  dan pengusaha dihimbau untuk menekan pembelian produk impor dan beralih ke produk dalam negeri, sehingga produksi lokal semakin meningkat serta memberikan kontribusi devisa yang diharapkan mampu ikut mendorong penguatan nilai rupiah terhadap US$.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Nasional Terhadap Pertumbuhan Daerah” yang digelar Kadin Kota Semarang di Aston Inn, Semarang, Kamis (13/9).

Seminar nasional itu, menghadirkan tiga narasumber terdiri Walikota Semarang Hendrar Prihardi, pengamat ekonomi Aviliani dan Dirut PT PP Persero Lukman Hidayat.

Walikota Semarang Hendrar Prihardi mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US$ hingga menembus level Rp15.000 per US$ sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian nasional.

Meski demikian, lanjutnya, kondisi itu bisa disiasati dengan berbagai langkah upaya, termasuk mengurangi pembelian impor dan beralih ke produk dalam negeri.

Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi itu mengharapkan agar seluruh elemen masyarakat maupun pengusaha yang terbiasa membeli produk impor, untuk segera berhenti dan beralih membeli produk dalam negeri.

“Saya menghimbau seluruh warga Semarang maupun pengusaha untuk menekan pembelian produk barang impor dan membeli produk dalam negeri, sehingga ekonomi tumbuh baik, karena langkah itu diharapkan produk lokal akan terus diproduksi dan devisa tidak banyak keluar sehingga terjadi penguatan rupiah,” ujarnya.

Terkait menguatnya US$ terhadap rupiah, Hendi meminta kalangan kontraktor yang mendapatkan anggaran APBD baik dari pengadaan dan konstruksi untuk segera melakukan berbagai upaya.

“Para kontraktor yang terimbas kenaikan US$ untuk segera melakukan adendum (tinjau ulang) saat memiliki barang impor. Lebih baik gunakan produk dalam negeri yang memiliki kualitas tidak kalah dengan produk impor,” tuturnya.

Pengamat ekonomi Aviliani menuturkan pemerintah daerah memiliki peranan besar untuk mengajak kalangan pengusaha guna mendorong nilai ekspor dan mengurangi impor sebagai upaya penguatan ekonomi.

“Selain itu yang lebih penting adalah pemerintah daerah  untuk  membangun di hulu terlebih dulu, karena selama ini hanya hilir yang diberikan insentif,” ujarnya.

Dia menilai sektor pariwisata merupakan langkah paling ampuh sebagai penguatan ekonomi daerah, sehingga bila nilai tukar rupiah terhadap US$ terpuruk tidak akan berpengaruh besar.

Namun sayangnya, menurutnya, masih banyak daerah di Indonesia masih fokus menyedot wisatawan domestik bukan internasional.

“Daerah perlu membuat even internasional, karena melalui even itu banyak uang yang dibelanjakan di daerah bersangkutan. Hal ini berbeda dengan wisatawan yang datang sendiri sendiri,” ujarnya.

Dirut PT PP Persero Lukman Hidayat mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US$ berpengaruh di sektor konstruksi. Meski demikian, menurutnya, pengaruh tersebut tidak terlalu signifikan.

“Kalau untuk konstruksi ada pengaruhnya tapi sedikit dan masih dapat dicarikan solusi,” tutur Lukman. (RS)

 

8
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>