Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Penjualan sektor properti di Jateng sepanjang 2020 mengalami penurunan tipis, akibat konsumen masih menunggu masa pandemi Covid-19 berakhir.

Sektor Properti khususnya perumahan sebagian besar hasil transaksi penjualan di Jateng didominasi melalui sejumlah Pameran, termasuk kegiatan Property Expo yang digelar REI Jateng selama tujuh kali.

Ketua Panitia Property Expo Dibya K Hidayat mengatakan sepanjang 2020 penjualan perumahan hanya mampu membuahkan transaksi sebesar Rp123,7 miliar dengan total sebanyak 199 unit, mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang berhasil mencetak transaksi senilai Rp224,8 miliar dengan total sebanyak 202 unit.

“Tahun ini transaksi penjualan perumahan turun tipis hanya 3 unit, bahkan  rumah yang terjual hanpir sebagian besar adalah rumah menengah dengan harga rata-rata Rp600 jutaan,” ujarnya, Senin (21/12).

Menurutnya, penurunan penjualan propterti itu akibat konsumen masih menunggu dan diharapkan masa pandemi segera berahkir, mengingat pandemi berdampak tidak hanya pada sektor properti, tetapi juga sektor lain di antaranya perhotelan, pariwisata, transportasi dan lainnya.

Bahkan, lanjutnya, pandemi Covid-19 telah menghantam semua sektor hingga perekonomian terjun bebas, tidak hanya terjadi secara nasional namun dunia, banyak negara mengalami hal yang sama.

“Namun diyakini pertumbuhan perekonomian nasional akan bisa segera pulih tahun mendatang dan diharapkan pandemi juga segara berakhir,” tutur Dibya.

Dia menambahkan dari sektor yang berhubungan dengan properti cukup banyak di antaranya sektor pariwisata, perhotelan, bahan bangunan, industri semen dan lainnya termasuk UKM, sehingga jika mereka kembali bangkit dipastikan pertumbuhan properti akan tergerak ikut naik.

Menurutnya, kebutuhan rumah pada umumnya mengalami peningkatan di akhir tahun dan awal tahun, mengingat banyak konsumen yang memanfaatkan moment akhir tahun dan awal tahun untuk membeli rumah.

Dia menuturkan isu pandemi Covid-19 saat ini memang masih sangat mempengaruhi penjualan rumah. Bahkan perbankan sangat selektif dalam mengucurkan KPR.

Transaksi penjualan perumahan, tutur Dibya, selama masa pandemi tidak sedikit konsumen membeli rumah dengan tunai, cash keras maupun cicilan lunak selama 1 tahun. Hal ini dilakukan karena perbankan sulit mengucurkan KPR.

Sedangkan para pengembang, dia menambahkan pembayaran dengan cicilan lunak tidak ada masalah, karena kondisi pandemi mereka harus tetap menjual rumah yang diproduksi.

Hambatan dalam penjualan rumah saat ini ada pada pengucuran KPR oleh perbankan. Pada masa pandemi perbankan sangat selektif dalam memberikan KPR.

“Kami sudah meminta perbankan untuk menilai kemampuan  konsumen secara langsung , bukan hanya berdasarkan restrukturisasi, karena restrukturisasi juga merupakan program pemerintah, karena masih banyak konsumen yang memiliki kemampuan untuk membayar angsuran,” ujar Dibya. (RS)

 

20
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>