Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Penulis kenamaan Semarang, NH Dini meninggal dunia, Selasa siang (4/12). Dari kabar yang dihimpun, NH Dini meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Tol Tembalang KM 10 Semarang.

Mobil yang ditumpangi tertimpa muatan truk di depannya saat perjalanan pulang dari tusuk jarum. Diduga NH Dini mengalami gegar otak.

Menurut keterangan, beliau meninggal pukul 16.00 WIB, setelah kecelakaan terjadi pada puku 11.00 WIB.

Saat ini jenazah masih disucikan di RS Elizabeth untuk disemayamkan di Wisma Lansia Harapan Asri.

Bruder Heri, Kepala Bruder Wisma Lansia Harapan Asri menuturkan recananya pada Rabu (5/12) setelah pukul 12.00 WIB jenazah akan dikremasi di pemakaman Kedungmundu Semarang.

Almarhuah Nh. Dini merupakan sosok seorang sastrawan yang mempunyai nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, lahir pada 29 Februari 1936 di Semarang. Sebagai sastrawan Nh. Dini menulis berbagai genre sastra di antaranya puisi, drama, cerita pendek, dan novel, tetapi lebih terkenal sebagai novelis yang kebanyakan karyanya mempergunakan latar negara-negara luar Indonesia.

Nh Dini putri adalah bungsu pasangan Salyowijiyo, seorang pegawai perusahaan kereta api, dan Kusaminah. Nh Dini juga berdarah bugis selain Jawa dan memeili 4 saduara terdiri Heratih  Mohamad Nugroho, Siti Maryam dan Teguh Asmar.

Dari keempat saudaranya itu yang paling akrab dengan Dini adalah Teguh Asmar karena keduanya sama-sama seniman. Nh. Dini juga dekat dengan ayahnya yang telah membimbingnya dalam mencintai seni. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar Dini belajar menari dan memukul gamelan yang tujuannya untuk mendidiknya supaya Dini memahami kelembutan dalam kehidupan.

Itulah sebabnya, mengapa tokoh utama wanita dalam novelnya Pada Sebuah Kapal sangat menonjol sifat kelembutannya. Pada 1960 Nh Dini dipersunting seorang diplomat Perancis, Yves Coffin, yang pada saat itu sedang bertugas selama empat tahun di Indonesia.

Setelah menikah, mereka pindah ke Jepang. Setahun kemudian pada 1961, lahir anak pertamanya yang diberi nama Marie Glaire Lintang. Dari Jepang mereka pindah ke Kamboja dan pada 1967 lahir pula anak kedua (laki-laki) Louis Padang di L’Hay-‘les Roses, Perancis. Akhirnya, mereka menetap di Perancis.

Rumah tangga pasangan Nh. Dini dan Yves Coffin ini retak setelah mereka jalani selama lebih kurang dua puluh tahun. Setelah menyelesaikan urusan perceraiannya pada 1980 Nh Dini kembali ke tanah air dalam keadaan sakit kanker. Setelah kesehatannya pulih, Nh. Dini aktif menulis dan membimbing anak-anak di desa Kedung Pani, sambil memupuk bakat menulis anak-anak bersama pondok bacaannya di Pondok Sekayu, di desa Kedung Pani, Semarang pada 1986.

Setelah Nh. Dini pindah ke Yogyakarta, Pondok Baca itu dipindah pula ke Yogyakarta di alamat Nh. Dini, Graha Wredha Mulya 1-A (2003). Selain itu, Nh. Dini juga mempunyai pondok baca cabang Jakarta, dan di Kupang Timur.  (RS)

23
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>