Sebarkan berita ini:

24-kapal-kontainerSEMARANG[SemarangPedia] – Persaingan yang cenderung tidak sehat antarperusahaan operator kapal kontainer pada rute domestik masih terus berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas dan mengakibatkan tarif anjlok sekitar 50% dari tarif pasar sebelumnya.

Ketua DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Semarang Ridwan mengatakan perang tarif kini terkesan sudah saling mematikan antara sesama operator kapal dalam satu rute di tengah perusahaan pelayaran nasional menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini.

Menurutnya, perang tarif itu akibat kelangkaan muatan yang berlangsung sejak awal tahun ini dan hingga kini kondisinya masih belum normal, bahkan muatan terus merosot.

Seharusnya, lanjutnya, saat muatan langka seperti sekarang ini perusahaan operator kapal bersatu agar tarif di pasar normal kembali.

“Jumlah ruang kapal dengan jumlah muatan yang tersedia kini sudah tidak seimbang, ” ujarnya di sela-sela menghadiri wisuda perwira Akademi Pelayaran Niaga Indonesia (Akpelni), di Semarang, Sabtu. (24/9).

Berdasarkan informasi dari sejumlah perusahaan pelayaran, tarif kapal kontainer rute domestik turun hingga 50% dengan tujuan ke berepa pelabuhan seperti Jakarta, Padang, Pekanbaru, Surabaya dan lain.

Ridwan menuturkan untuk mengatasi penurunan tarif tersebut, INSA telah akan  mengumpulkan perusahaan operator kapal kontainer untuk membahas kemungkinan campur tangan pemerintah.

Sejumlah perusahaan pelayaran, lanjutnya, mengharapkan pemerintah turun tangan untuk mengatur kembali trayek, sehingga dicapai keseimbangan antara ruang kapal dengan muatan. Bahkan belakanga ini volume arus kargo perdagangan domestik melalui laut terus turun drastis.

Perang tarif tidak terjadi tidak hanya untuk operator menengah tetapi sebagian besar operator kapal banting tarif sebagai upaya mendapatkan muatan dengan dalih dari pada menunggu terlalu lama di pelabuhan.

Dia mengatakan sejak terjadi kelangkaan muatan selama enam bulan terakhir, jadwal kapal kontainer domestik yang dioperasikan perusahaannya tidak bisa lagi tepat waktu.

Selain akibat kelangkaan muatan, persaingan tidak sehat saat ini muncul akibat jumlah operator kapal dalam satu rute terlalu banyak.

Menurutnya, tertekannya freight kontainer domestik tersebut dipicu tidak seimbangnya supply and demand dan penambahan jumlah kapal dan kapasitas angkut kapal juga semakin besar pada rute-rute tertentu, sehingga persaingan tarif tidak bisa dihindari dan cenderung freight tertekan.

257
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>