Sebarkan berita ini:

14-kota-lamaSEMARANG[SemarangPedia] – Kota lama Semarang bakal dijadikan pusat perdagangan gula skala dunia dalam tema yang akan diajukan kepada World Heritage Center UNESCO., untuk mengenang kejayaan jaman 1900-1929.

Tema tersebut dipilih karena Kota Lama pernah menjadi pusat perdagangan gula dengan prioritas untuk mmemnuhi pasar ekspor. Bahkan pada 1900- 1929, gula menjadi komoditas ekspor terbesar, dibanding tembakau, kopi, dan kapas.

Kabid Perencanaan Bappeda Kota Semarang, M Farchan mengatakan pada 1990, jumlah produksi gula mencapai 138.692 ton per tahun dan terus meningkat hingga 620.828 ton per tahun pada 1929.

Pada 1929, ekspor tembakau hanya 11.330 ton per tahun, kopi 2.676 ton per tahun, dan kapas 9.313 ton per tahun. Kejayaan perdagangan gula pada masa itu, ditandai dengan munculnya pengusaha gula kaya Oei Tiong Ham (1866-1924). Bahkan, warga keturunan Tionghoa ini sering disebut raja gula Asia.

Selain itu Oei Tiong Ham juga memiliki perusahan gula bernama Monod Diephuis and CO yang berbabasis di Jl Kepodang Kota Lama Semarang serta Gudang Gula di Gabahan, Semarang Tengah. Sementara bekas rumahnya ada di Jalan Kyai Saleh  kini digunakan untuk kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Aktivitas usahanya yang mendunia menjadi tema Kota Lama untuk diajukan kepada UNESCO.

”Semarang, khususnya Kota Lama pernah menjadi pusat perdagangan gula yang mendunia. Bahkan gula hasil produksi dari seluruh Jawa diperdagangankan di Kota Lama. Tema inilah yang akan kami ajukan ke Unesco,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan perdagangan gula yang besar mendorong berdirinya sarana dan prasarana, seperti kereta api serta pelabuhan berdekatan dari kawasan Kota Lma.

Saat ini pihaknya tengah menyusun draf nominasi (dossier) warisan dunia UNESCO. Beberapa di antaranya, identifikasi aset pusaka, deskripsi aset pusaka, upaya konservasi, manajemen dan proteksi, desain monitoring, dokumentasi, kelembagaan pengeloa dan justifikasi OUV (Outsttanding Universsal Values).

Dia menuturkan dalam penyusunan justifikasi OUV ada enam kriteria, sedangkan Kota Lama masuk tiga kriteria. Pertama untuk memasukan persiapan dari nilai-nilai manusia, dalam suatu rentan waktu atau dalam wilayah kebudayaan dunia. Pada perkembangan dalam arsitektur atau teknologi, seni monumental, perencanaan kota atau desain landskap.

Sedanglan kedua, untuk menanggung keunikan atau setidaknya kesaksian yang luar biasa dari tradisi budaya atau untuk sebuah peradaban yang masih hidup maupun yang telah punah serta ketiga, untuk menjadi contoh yang luar biasa dari jenis bangunan, ansambel dari arsitektural atau teknologi, atau landskap yang mengilustrasikan pentahapan signifikan dari sejarah manusia.

Kota Lama kini menjadi satu dari sembilan daerah yang maju di World Heritage Center UNESCO. Delapan daerah lain, yakni Toraja Sulawesi Selatan, Muara Jambi, Trowulan Jatim, Sawahlunto Sumatera Barat. Kemudian Sangkulirang Kalimantan Timur, Sijunjung Sumatera Barat, Banda Islands Maluku dan Kota Tua Jakarta.

”Kami juga akan menerima masukan dari masyarakat, termasuk akademisi terkait usulan ini. Sebelum diajukan ke UNESCO, selain juga akan dilakukan melalui seminar tema Kota Lama itu,” tuturnya.

156
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>