Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan dukungan kepada dua siswa SMA Negeri 1 Semarang terdiri Anin dan Afif yang dikeluarkan dari sekolah, terkait dugaan kekerasan terhadap yuniornya saat kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Perkumpulan OSIS dari Yogyakarta itu, diwakili empat siswa menemui Anin dan Afif di Kantor Gubernur Jawa Tengah, sebelum dua siswa yang dikeluarkan tersebut mengikuti pertemuan yang digelar di ruang rapat kantor Gubernur Jateng antara orang tua siswa dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Kamis (1/2).

Anggota Forum komunikasi pengurus OSIS Yogyakarta, M Khaleed mengatakan kedatangannya bersama sejumlah pengurus OSIS dari Yogyakarta menemui Anin dan Afif sebagai bentuk solidaritas.

Menurutnya, persoalan yang menimpa Anin dan Afif tidak hanya terjadi di Semarang saja, tepai juga di kota lain, sehingga perlu dicarikan solusinya.

“Ini kami datang dari Yogyakarta untuk menunjukkan rasa solidaritas dan pengambilan keputusan dari SMA Negeri 1 Semarang yang mengeluarkan Anin dan Afif  itu lucu an aneh,” ujarnya.

Keprihatinan yang sama juga diungkapkan Hafidz Putro Anugrahanto siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta. Menurutnya, keputusan SMA Negeri 1 Semarang mengeluarkan Anin dan Afif berdampak terhadap masa depan dua siswa tersebut.

“Kasus ini membuat kami sedih. Apalagi mereka (dua pelajar SMA Negeri 1 Semarang, Afif dan Anin) sudah kelas tiga yang sebentar lagi akan menempuh ujian,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Semarang, Andra Ata mengatakan teman-teman lainnya termasuk junior mendukung Anin dan Afif agar tetap bersekolah di SMAN 1 Semarang.

“Teman-teman syok termasuk adik kelas kami yang ikut latihan dasar kepemimpinan (LDK). Kan sudah kelas XII, mau ujian,” tuturnya.

Berbagai cara dilakukan teman-teman Anin dan Afif mulai dari protes kepada Kepala Sekolah hingga membuat semacam petisi dan poster. Para senior sempat menanyakan kenapa dua siswa itu dikeluarkan padahal banyak anggota OSIS lainnya di lokasi kekerasan yang dituduhkan pihak sekolah.

“Junior yang ikut LDK juga tidak protes ada kekerasan, menurut mereka seniornya sudah benar,” ujar Andra. (RS)

 

214
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>