Sebarkan berita ini:

30-dialog-kopiSEMARANG[SemarangPedia] –  Petani kopi di lereng Muria Kabupaten Kudus mengeluhkan kesulitan dalam pengolahan pasca panen, menyusul hingga saat ini tidak ada satupun produsen lokal di wilayah itu yang memproduksi kopi jadi ataupun instant dalam kemasan.

Pranyoto Shofil Fuad seorang petani Desa Colo, Muria Kabupaten Kudus di depan Bupati Kudus Musthofa mengatakan para  petani kopi di lereng Muria hingga kini masih mengalami berbagai kendala, selain kurangnya edukasi soal metode perawatan tanaman kopi, pengolahan pasca panen juga penjualan hasil panen serta problem sertifkasi.

Namun, lanjutnya potensi yang besar itu tidak sebanding dengan cara pemanfaatnya karena keterbatasan petani mengolah dimana belum ada pendidikan pengolahan kopi, fasiltas yang terbilang standar sehingga sampai kini kopi hasil produksi lereng Muria masih dijual mentah.

“Kami meminta pemerintah daerah bersedia membukakan jalan dengan sertifikasi, fasilitas proses pengolahan kopi dan pemberdayaan petani kopi dengan memberikan pendidikan pengolahan kopi, sehingga ke depan Kopi Muria bisa langsung dijual dengan terbranding,” ujarnya dalam dialog ‘Ngopi Bareng Kang Mus’ yang dikemas dalam thema Kudus Trade Show 2016, di Java Mall, Semarang, Sabtu malam. (29/10)

Dialog yang dipandu oleh Nadia Ardiwinata digelar Dinas Perdagangan Dan Pengolahan Pasar Kabupaten Kudus itu, juga mengusung ‘Gusjigang’ (Bagus Ngaji Dagang) dengan dihadiri jajaran Muspida Pemkab Kudus, para pelaku usaha, petani, akademik, pers dan tamu undangan lainnya.

Menurutnya kopi, belakangan ini kopi tercatat sebagai komoditas paling banyak dan nomor dua yang diperdagangkan secara legal, setelah minyak bumi.

“Disisi lain, di Kabuaten Kudus tidak adanya produsen lokal yang siap mengolah kopi hasil panen petani dan menjualnya dalam produk jadi, sehingga selama ini produsen di luar Kudus hanya membawa kopi Muria dan menjualnya dengan menghilangkan ‘indentitas Muria’,” tuturnya.

Pranyoto yang juga pemilik produk Kopi Muria Wilhelmina mengatakan selama ini konsumen lokal sebagian besar masih lebih banyak mengkonsumsikan kopi instant, sehingga di wilayah Kudus sangat membutuhkan produsen lokal.

Di sentra produksi kopi lereng Muria, lanjutnya, produksi petani semakin meningkat hingga rata-rata setiap hektare mampu menghasilkan kopi mentah sebanyak tiga sampai empat ton, sedangkan harga green beans  saat ini rata-rata sekitar  Rp24.000 per kg.

Luas lahan kopi di lereng Muria kini terus menyebar hingga total sudah mencapai 500 hektere lebih, meski hasil produksi petani hanya dijual dalam bentuk kopi mentah tanpa pengolahan yang standarisasi maupun kemasan.

Pengolahan secara tradisional, dia menambahkan potensi harga biji kopi yang sudah diproses dengan teknik tertentu bisa mencapai sebesar Rp60.000 per kg. Di wilayah Kudus saat ini terdapat sebanyak 35 Coffe Shop di luar warung penjual kopi instant.

Bupati Kudus H Musthofa menanggapi bijak keingian petani kopi di wilayahnya itu, dan Pemkab menjanjikan akan memfasilitasi, mendukung dan memberikan penyuluhan dan bagi pengusaha khususnya prousen kopi akan dilakukan melalui jalur komunikasi.

“Penerapan mudah Komunikasi, bahasa jawa (Kon Muni Tak Kasi). Contoh Pak saya ada kesulitaan tentang ini , membuat kulitas kopi harus butuh ini-itu. Dan kami akan menanggapi yang dilakun kini kamu sejauh mana? Dimana tempatnya?,” ujar Musthofa.

Jika keinginan pengusaha akan potensi yang dimiiknya  jelas, lanjutnya ,Pemkab selalu hadir ada di tengah- tengah dan bahkan akan memastikan secara langsung proses pengolahan hingga tahap pendistribusian dan pemasaran.

“Kami menyadari keinginan petani kini adalah sertifikasi plus jaminan proses dari produksi kopi, sehingga menghasilkan mutu dan kualitas yang mampu bersaing di pasar, ” tuturnya.

Musthofa langsung menginstruksikan Kepala Dinas Perdagangan dan Pengolahan Pasar yang ikut hadir dalam dialog tersebut, untuk membuat kebijakan khusus dengan merangkul petani kopi lereng Muria, agar mereka mampu merasakan secara efektif, sehingga kesejahteran pun meningkat.

“ Ini bisa dijadikan bahan Dinar Perdagangan Dan pengolahan pasar untuk bisa menampung hasil panen petabi, tetapi proses pegolahaan tetap kembali kepada petani, agar harga jual panen kopi mampu bersaing di pasar,”  ujarnya. (RS)

229
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>