Sebarkan berita ini:
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dokter Kariadi Dr Agoes Oerip Poerwoko

SEMARANG[SemarangPedia] – Pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang memastikan pasien yang meninggal dinyatakan negatif Covid-19, bahkan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Litbangkes karena menderita bronkopneumonia.

Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia, yaitu infeksi yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada paru-paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.

Direktur Medik dan Keperawatan dr Agoes Oerip Purwoko, SpOG(K), MARS mengatakan pasien memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, yakni Spanyol dn transit di Dubai. Pulang ke Indonesia pada 13 Februari lalu. Namun, baru sehari di rumah, dia batuk-batuk selama dua hari.

“Kemudian, pasien sempat ke luar kota. Bukannya membaik, selain batuknya tak reda, yang bersangkutan juga mengalami demam dan sesak nafas. Sempat masuk ke rumah sakit, tapi karena bertambah parah, kemudian dirujuk ke RS Kariadi pada 19 Februari. Saat datang, kondisinya sudah sangat buruk. Pada 23 Februari, pasien meninggal dunia,” ujarnya kepada pers, Rabu (26/2).

Daalam acara jumpa pers itu juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr M Abdul Hakam SpPD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dr Yulianto Prabowo MKes dan tim medis dr Fathur Nurcholis SpPD-KP dan dr Nurfachanah SpPD-KPTI.

Menurut Agoes, saat pasien tiba dari luar negeri, pasien dinyatakan berstatus orang dalam pemantauan (ODP), artinya orang yang punya riwayat perjalanan dari luar negeri. Namun, karena mengalami gejala klinis batuk, demam dan sesak nafas, maka statusnya dinaikkan menjadi pasien dengan pengawasan (PDP).

“Sesuai protokol yang berlaku, pasien yang masuk dengan gejala klinis semacam itu kita anggap sebagai pasien yang kemungkinan positif Covid-19, sehingga, sejak pasien masuk, maka seluruh prosedur perawatan dan perlakuannya sebagai pasien yang terduga positif Covid-19. Hal itu, karena kami memiliki kewaspadaan isolasi, sehingga saat masuk dan dirawat,pasien itu diisolasi dalam ruang khusus, terpisah dari pasien lainnya,” tuturnya.

Perlakuan tersebut juga diberlakukan saat pasien meninggal dunia. Pihak rumah sakit telah memberitahukan kepada keluarga pasien, sehingga tidak menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran bagi pihak keluarga.

“Semuanya demi kebaikan keluarga dan bagi tim medis di rumah sakit, juga masyarakat lainnya. Namun, kami lega dan bersyukur, setelah hasil uji lab Litbangkes keluar dan dinyatakan bahwa pasien negatif Covid-19,”’ujarnya.

Tim medis dr Fathur Nurcholis SpPD-KP dan dr Nurfachanah SpPD-KPTI, yang merawat pasien menuturkan kondisi pasien saat masuk sudah sangat buruk. Pasien didiagnosa menderita bronkopneumonia dengan penyebabnya dari bakteri.

“Pasien menderita bronkopneumonia akut dari bakteri dengan masa inkubasi 5-7 hari. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, karena akut maka proses perkembangbiakan bakterinya sangat cepat, sehingga sudah menjalar ke banyak organ tubuh,” tutur dr Fathur.

Menurutnya, angka kematian pada kasus bronkopneumonia terbilang cukup tinggi. Paru-paru pasien rusak berat, dan pasien mengalami peradangan saluran nafas yang akhirnya gagal nafas, karena peradangan terjadi di seluruh organ, atau multi organ.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dr Yulianto Prabowo MKes mengatakan sejak kasus ini merebak, di Jateng terdapat 16 pasien, dimana 15 orang pasien yang dirawat sudah diperbolehkan pulang dan seorang pasien meninggal dunia.

“Seluruh pasien tak memenuhi kriteria suspect Covid-19 seperti rekomendasi WHO,” tutur Yulianto.  (RS)

 

11
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>