Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kebijakan Kepala Sekolah SMAN 1 Semarang yang mengeluarkan dua siswanya, akibat dugaan pelanggaran tindakan kekerasan saat latihan dasar kepemimpinan (LDK) tidak akan ada perubahan, meski orang tua kedua siswa itu telah mengadu kepada Osbudsman Jateng.

Pihak SMAN 1 Semarang bersikukuh dengan kebijakan itu dan tidak akan berubah tetap mengembalikan dua siswanya yang dianggap melakukan kekerasan atau bullying kepada orang tuanya.

Meski keduanya tidak memilik track record pelanggaran, namun karena satu kesalahan ternyata dinilai sekolah cukup untuk membuat mereka hengkang dari sekolah favorit di Semarang itu.

Dalam penjelasan kepada pers yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Gatot B Hastowo, pengelola SMAN 1 Semarang terdiri Kepala Sekolah, Endang Suyatmi L beserta Wakil Kepala Sekolah berserta sejumlah guru tetap mempertahan kebijakan yang mereka keluarkan.

Endang mengatakan kebijakan yang diambil sudah sesuai aturan tata tertib sekolahan, mengingat sekecil apapun kekerasan yang dilakukan siswanya tidak dibenarkan dan sudah diterbikan peraturannya yang tertuang dalam buku tata tertib, keseluruan aturan itu masih belum sempurna keseluruhannya.

“Kebijakan ini sebagai shock terapi agar anak-anak lebih baik sikapnya, dan dapat lebih memahami tata tertib,” ujarnya kepada pers,  di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Semarang, Selasa (27/2).

Menurutnya, poin pelanggaran sudah tercatat dalam buku tata tertib. Siswa atas nama AN yang dikeluarkan dari sekolah itu mendapatkan poin 125. sedangkan siswa atas nama AF mendapatkan 130 poin. Jumlah tersebut melebihi batas, yaitu 100 poin sehingga harus dikembalikan ke orangtua.

“Dalam tata tertib, kalau sudah 101 poin dikembalikan ke orangtua,” tuturnya. Poin-poin untuk AF, menurutnya, menyakiti perasaan peserta didik dan atau melakukan tindakan tidak sopan hingga merugikan peserta didik yang bersangkutan (20 poin), penyalahgunaan fasilitas sekolah yang tidak sesuai peruntukkannya (5 poin).

Selain itu, lanjutnya, mengotori, mencorat-coret dan merusak fasilitas milik sekolah atau pihak lain (5 poin), mengancam, mengintimidasi peserta didik secara individu di dalam atau di luar sekolah (50 poin) dan mengancam, mengintimidasi atau bermusuhan dengan peserta didik secara berkelompok di dalam atau di luar sekolah (50 poin)

“Untuk yang AN sama (tertulis dalam aturan nomor) 11, 17, 24, 25 yang jumlahnya 125 poin,” ujar Endang. Meski jumlah poin tersebut dijatuhkan dalam satu perkara, meski sebelumnya dua siswa anggota OSIS itu memang belum pernah melakukan pelanggaran.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Gatot mengatakan pihaknya menerima laporan dari sekolahan dan akan memfasilitasi mencarikan sekolah negeri bagi dua siswa itu agar bisa mengikuti ujian nasional.

“Saya selaku Kadinas mencari jalan keluar agar anak-anak ini tetap ikut ujian nasional. Saya bilang jangan di swasta, di negeri yang dekat dengan rumah mereka,” tuturnya.

Namun upaya itu, nampaknya belum diterima oleh kedua siswa itu meski sudah ditentukan dapat dipindah ke SMAN 11 dan SMAN 13 Semarang. Mereka dan orangtuanya merasa janggal dengan kasus tersebut terlebih lagi sudah menjelang Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.

AN dan AF merupakan anggota Osis, bahkan AN saat kelas X pernah mewakili sekolahan dalam kejuaraan Voli tingkat Kota. AN sangat terkejut dengan apa yang menimpanya sedangkan AF masih dalam kondisi sakit saat ini. (RS)

4.099
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>